Aku Memulai Tahun Ini Tanpa Resolusi Besar
Sederhana saja, hanya ingin tetap hadir dan bertahan satu tahun ke depan.
Tidak ada daftar rencana atau to do list yang panjang. Tidak ada target pencapaian yang muluk-muluk. Tidak ada juga janji yang terdengar heroik pada diri sendiri maupun pada dunia di luar sana.
Bukan karena aku tidak berani lagi bermimpi, bukan juga karena sudah putus asa. Aku hanya sedang lelah dengan kebiasaan berjanji dan membohongi diri sendiri setiap awal tahun.
Ingin menjadi lebih baik, ingin membuktikan bahwa aku bisa, ingin begini ingin begitu, yang justru membuat semua itu menjadi semacam beban yang harus aku pikul sendiri, dan ketika aku tidak bisa mencapai satupun dari semua tujuan itu ada rasa malu pada diri sendiri.
Jujur, tahun-tahun sebelumnya, aku pernah jadi orang yang rajin menulis resolusi, hobi membuat daftar target dan pencapaian, semangat membuat catatan to do list dan skejul yang rapi. Semuanya indah dibaca dan enak di dengar, penuh semangat, penuh harapan.
Semua itu tidak hanya aku tulis di angan, aku juga menulisnya di buku catatan, bahkan menulisnya di beberapa lembar potongan kertas catatan dan menempelnya dengan rapi di dinding, menandai dan membedakan warnanya demi memastikan tidak ada satu pun tugas yang terlewat dan memastikan tidak ada satupun target yang meleset.
Tapi entah kenapa, setiap pertengahan tahun, kertas-kertas berisi catatan itu terasa seperti saksi bisu kegagalan, kadang satu per satu mereka jatuh dan gugur ke lantai karena diterpa musim dan cuaca yang selalu berubah-ubah, hingga membuat lem perekatnya semakin mengering dan tak mampu lagi bertahan di dinding tempat aku menempelkan mereka.
Bukan karena aku malas, tapi karena hidup sering kali tidak berjalan sesuai rencana, realitas seringkali mengaburkan harapan dan impian, dan aku seringkali lupa memberi ruang untuk itu.
Dan di awal tahun ini, aku benar-benar ingin memulai semuanya dari titik nol. Titik dimana aku ingin "mengosongkan" diri. Seperti buku baru yang benar-benar kosong, atau gelas kopi yang benar-benar masih bersih dan belum terisi apapun, lalu membiarkan takdir menulis dan menentukan apa yang layak dimasukkan disana.
Tahun lalu mengajarkanku satu hal penting
Ya, tahun demi tahun senantiasa meninggalkan sebuah catatan penting yang justru nyaris tidak pernah kutulis
Bertahan saja sudah butuh tenaga.
Ada hari-hari di mana bangun tidur terasa seperti menyangga sebuah beban yang begitu berat tanpa alasan yang jelas. Ada rencana yang gugur bukan karena tidak niat, tapi karena keadaan. Ada usaha yang sudah dicoba, tapi hasilnya tetap tidak seperti yang diharapkan. Di titik itu, resolusi besar dan janji yang terlalu berapi-api justru terasa seperti sebuah beban.
Maka tahun ini, aku memilih cara yang lebih jujur.
Aku tidak menargetkan “menjadi versi terbaik dari diriku”. Aku hanya ingin menjadi versi yang tidak meninggalkan diri sendiri.
Aku ingin hidup dengan ritme yang masuk akal. Bekerja saat bisa. Istirahat saat perlu. Dan berhenti menyalahkan diri sendiri hanya karena hidupku masih belum naik level seperti orang lain.
Aku belajar bahwa tidak semua orang memulai tahun dengan semangat.
Ada yang memulainya dengan napas panjang. Ada yang masih membawa lelah dari tahun sebelumnya, termasuk aku. Dan itu tidak apa-apa.
Tahun ini aku tidak mengejar bahagia besar.
Aku hanya menjaga ketenangan-ketenangan kecil, seperti:
- Tenang ketika aku masih bisa menikmati secangkir kopi di pagi hari.
- Tenang saat malam datang, aku masih bisa terlelap tanpa terlalu banyak penyesalan.
- Tenang saat aku bisa berkata, “Hari ini aku sudah cukup berusaha.”
Tahun ini, aku benar-benar tidak ingin mengulang siklus yang sama dengan tahun-tahun sebelumnya. Bukan siklus membuat rencana, lalu menyalahkan diri sendiri saat rencana itu runtuh di tengah jalan.
Aku ingin belajar menerima bahwa hidup bukan proyek yang bisa ditempel rapi di dinding. Hidup adalah sebuah realitas yang harus di jalani dengan realistis dengan bumbu optimisme di dalamnya. Hidup adalah tentang bergerak, membelok, kadang menghilang sebentar, lalu muncul lagi tanpa permisi, begitulah ritmenya.
Jadi jika tahun ini aku hanya mampu bangun, bekerja sebisaku, jatuh, lalu bangkit lagi tanpa selebrasi, tanpa validasi, itu saja sudah cukup.
Jika aku masih bisa tertawa di sela lelah, masih bisa minum dan menikmati kopi hari ini meski dengan kepala yang ribut dan pikiran-pikiran yang berisik, namun hati tidak sepenuhnya kosong_itu juga sudah cukup.
Jika tahun ini berjalan lamban, aku tidak akan memakinya. Jika aku harus berhenti di tengah jalan sebentar, aku tidak akan menyebutnya gagal. Itulah caraku belajar hidup, tanpa memusuhi diri sendiri.
Dan jika kamu juga memulai tahun tanpa resolusi besar, mungkin kita sedang berada di titik yang sama. Bukan menyerah. Hanya memilih jalan yang lebih masuk akal dan lebih manusiawi.
Tahun ini, aku tidak ingin berlari lagi
Aku tidak lagi ingin berlari mengejar mimpi. Aku hanya ingin tetap berjalan dengan penuh harapan, dan benar-benar menikmati semua proses yang ada di dalamnya. Hanya ingin berusaha bertahan sekuat dan semampuku. Hanya ingin tetap hadir itu saja.
Aku ingin menjalani hidup dengan sadar, hidup hari ini, saat ini, untuk menjaga kewarasan & ketenangan. Dan ini jauh lebih penting dan menenangkan di banding pencapaian dalam bentuk apapun yang harus aku kejar demi mengikuti standar suara dunia yang seringkali ramai membicarakan target-target dan pencapaian yang "tidak manusiawi".
Tidak apa-apa jika tahun ini aku harus memulai kembali dari Nol. Karena memulai kembali tidak selalu membutuhkan tekad dan resolusi besar atau daftar rencana panjang.
Kadang, hidup hanya perlu ditata ulang lewat hal-hal kecil yang kita lakukan setiap hari, dengan lebih sadar, lebih jujur, dan lebih tenang.
Dan jika di tanya apa resolusiku tahun ini? Jawabnya, tidak ada resolusi besar. Mungkin, inilah resolusiku yang paling jujur sejauh ini:
"Tidak berhenti hidup hanya karena aku lelah berharap."~Diari Gunarti



Posting Komentar