Catatan Penulis
Tulisan ini disusun sebagai catatan deskriptif dan informatif tentang cara sebagian introvert memaknai serta merayakan Natal. Isinya tidak dimaksudkan sebagai pembenaran pribadi, melainkan sebagai upaya berbagi pemahaman mengenai perbedaan cara manusia menyambut momen istimewa yang sama.
Refleksi personal penulis mengenai Natal disajikan dalam bentuk puisi terpisah berjudul “Natal di Hatiku” yang dipublikasikan di blog Aku Introvert.
Natal selalu menjadi momen yang ditunggu-tunggu. Namun, bagi seorang introvert, merayakan Natal bisa menjadi tantangan tersendiri. Dengan sifat yang lebih menyukai kesendirian atau interaksi dalam kelompok kecil, mereka memiliki cara unik dalam merayakan dan memaknai Natal. Dalam tulisan ini, aku akan berbagi Bagaimana seorang introvert ketika menyambut dan merayakan Natal.
Kebetulan, sebagai seorang yang berkepribadian cenderung introvert, sebenarnya aku kurang suka atau kurang nyaman dengan acara perayaan Natal seperti mengadakan acara open house atau menghadiri undangan "pesta natal" dengan suasana yang penuh dengan kemewahan dan keramaian. Tidak hanya momen Natal saja, ini juga berlaku untuk perayaan momen-momen istimewa lainnya, seperti momen ulang tahun, pernikahan, kelahiran, khitanan dan sebagainya.
Menghadiri atau mengadakan undangan pesta bagiku adalah sesuatu yang sangat menguras energi, karena ya itu tadi suasana yang ramai dan banyak orang sangat membuatku canggung dan kurang nyaman. Aku lebih nyaman menyambut datangnya momen istimewa dalam hidupku dengan acara sederhana bersama keluarga dan orang-orang terdekat saja_termasuk momen Natal. Bukan bermaksud untuk menghindari aktivitas sosial bersama orang- orang sekitar, juga bukan berarti aku anti sosial, tetapi seperti yang sudah aku sampaikan di awal, bahwa seorang introvert lebih menyukai hal-hal yang sifatnya sakral dan personal/internal.
Aku benar-benar ingin mendapatkan arti dan makna momen Natal itu yang sesungguhnya, dimana yang aku rasakan justru kesakralan dari sebuah momen atau peristiwa tersebut hilang ketika fokus dan perhatian kita tersita untuk memikirkan desain undangan, dekorasi ruangan, menu hidangan pesta, berbagai macam protokoler pesta dan lain sebagainya, sehingga akhirnya membuat makna dan suasana Natal tadi jadi kurang "terasa".
Perfeksionis hingga Kecemasan menjelang Natal
Seorang introvert akan mengalami overthinking selama berhari-hari untuk memikirkan undangan atau acara pesta tersebut. Berbagai pertanyaan "bagaimana jika...", akan selalu muncul dan mengganggu benak mereka sebelum hari H acara tersebut tiba. Misalnya, bagaimana jika aku tidak bisa datang?Bagaimana jika aku gak bisa memberi kado atau bingkisan, bagaimana jika tidak usah mengadakan acara atau pesta, bagaimana jika tidak ada yang datang, bagaimana jika yang datang ternyata banyak, dan masih banyak lagi pertanyaan yang membuat mereka akhirnya mengalami stress, kecemasan yang mengakibatkan insomnia dan sebagainya.
Tak hanya itu, seorang introvert biasanya juga cenderung perfeksionis. Mereka sangat memperhatikan segala sesuatu secara mendetail sekalipun itu hal-hal yang menurut sebagian orang remeh dan sepele, tetapi bagi mereka tetap harus dipikirkan dan dibuat sesempurna mungkin. Sehingga ini juga yang mengakibatkan mereka sering overthingking, dan mengalami stres ketika harus menghadiri atau mengadakan sebuah pesta.
Intinya tingkat stres dan kecemasan seorang introvert akan meningkat tajam ketika akan menghadapi momen special dalam hidup mereka.
Mungkin akan lebih baik bagi mereka jika pada saat Natal tiba, mereka mencari inisiatif untuk pergi liburan ke suatu tempat di mana mereka bisa terhindar dari tekanan berbagai macam pertanyaan yang muncul dalam benak mereka, misalnya pertanyaan dari orang-orang di sekitar lingkungan mereka, mengapa mereka tidak menghadiri undangan perayaan Natal? Atau mengapa tidak ada pesta dan ucapan Natal? Padahal, pertanyaan-pertanyaan semacam ini biasanya datang dari pikiran atau ruang imajinasi mereka sendiri.
Namun ada satu hal yang menarik yang seringkali menimbulkan kesalah pahaman di masyarakat kita_meskipun introvert kerap menghindari keterlibatan langsung dalam perencanaan acara, mereka bukanlah pribadi yang tidak peduli. Dalam banyak situasi—baik di lingkungan keluarga, gereja, maupun masyarakat—introvert sering memilih berkontribusi dari balik layar. Mereka lebih nyaman menjadi donatur atau pendukung logistik daripada harus berada di barisan depan sebagai panitia atau pusat perhatian. Bukan karena enggan bersosialisasi, melainkan karena mereka merasa lebih bermakna ketika memberi dukungan tanpa sorotan.
Sekali lagi bukan berarti mereka tidak peduli atau tidak mau bersosialisasi, tetapi mereka lebih nyaman berkontribusi di "tempat tersembunyi" ketimbang aktif berada di barisan terdepan dan menjadi pusat perhatian.
Lantas, bagaimana suasana natal yang di sukai oleh seorang Introvert?
Selain suka dengan hal-hal yang bersifat personal, seorang introvert biasanya juga adalah sosok yang sangat romantis. Sesuai dengan kepribadiannya yang romantis, seorang Introvert biasanya lebih menyukai suasana malam Natal nan syahdu, suasana yang tenang dan damai.
Mereka lebih menyukai untuk berbagi perayaan dengan keluarga dan beberapa teman terdekat mereka daripada bersama banyak orang di keramaian. Mereka lebih cenderung untuk menghabiskan waktu bersama orang-orang yang mereka cintai, dibandingkan dengan berpartisipasi dalam acara-acara pesta perayaan yang megah dan meriah.
Begitu juga dengan cara mereka merayakan Natal. Mereka tidak akan terlalu peduli dengan hal-hal yang sifatnya materialistis, hal-hal jasmaniah, seperti baju baru, sepatu baru, dekorasi ruangan, hidangan pesta dan sebagainya.
Mereka akan cenderung untuk menciptakan suasana malam Natal yang syahdu nan romantis bersama dengan keluarga, berbincang secara mendalam (deep talk) tentang makna Natal. Mereka juga lebih suka membuat atau mengirimkan beberapa bait puisi atau ucapan Natal yang romantis daripada ngobrol panjang lebar di telepon.
Intinya, sorang introvert ingin menghabiskan dan melewati malam Natal dengan renungan dan doa Natal bersama keluarga_sungguh suasana Natal yang sakral, atau dengan kata lain melakukan semacam diskusi kontemplatif atau refleksi malam Natal. Dan inilah yang mereka harapkan ketika menyambut dan merayakan Natal.
Kalaupun ada seorang Introvert yang mengadakan acara open house atau menghadiri pesta perayaan Natal, hal itu sering dilakukan demi menjaga keharmonisan sosial atau menghindari konflik batin. Dalam budaya masyarakat yang menjunjung tinggi rasa sungkan dan kebersamaan, pilihan tersebut kerap diambil sebagai bentuk toleransi, bukan karena kenyamanan pribadi. Atau dengan kata lain karena terbawa oleh budaya masyarakat kita yang lebih cenderung merasa gak enakan_demi menghindari "konflik batin" tadi.
Kesimpulan
Sekilas mungkin seorang introvert terkesan tidak atau "kurang rohani" dalam menyambut dan merayakan Natal. Terkesan tidak peduli dengan momen Natal, padahal sebenarnya mereka sangatlah paham apa makna dari perayaan Natal yang sesungguhnya, yakni satu momen atau kesempatan untuk menghargai, menghormati, dan merenungkan arti kesucian, kebahagiaan, dan kebersamaan menyambut kelahiran Sang Juru Selamat di dunia.
Bagi mereka, Natal bukan tentang seberapa ramai perayaan berlangsung, melainkan seberapa jujur hati diajak bersuka cita—meski dalam ruang yang sunyi, sederhana, dan nyaris tak terlihat.



Posting Komentar