Menata Kembali Hidup Melalui 3 Hal Kecil Setiap Hari: Refleksi Harian untuk Memulai Kembali dari Awal

Daftar Isi [Tampil]

    Ilustrasi seorang perempuan duduk di depan meja kerja di dekat jendela dengan segelas kopi di tangannya, suasana tenang dan reflektif di pagi hari


    Pagi ini, di awal tahun ini, masih terasa seperti halaman buku baru yang masih kosong. Seperti biasa, aku duduk di depan meja kecilku, ditemani segelas kopi yang beberapa menit lalu kuseduh, uapnya masih naik perlahan. 

    Aromanya seperti hadiah istimewa dari semesta karena aku sudah melakukan tiga hal sederhana dengan penuh kesadaran pagi ini: bangun pagi, menyiapkan sarapan buat anak-anak, lalu membereskan dan merapikan rumah, sebelum mengantar anak sekolah dan melakukan beberapa rutinitas lainnya.

    Tidak ada yang hebat dan gegap gempita, tidak ada pencapaian besar. Hanya rutinitas Ibu-ibu biasa yang masih bisa aku lakukan, dan hembusan napas lega di antara lelah yang masih tersisa, tiga langkah nyata yang kulakukan dengan sadar untuk merapikan kembali hidupku, yang beberapa tahun ini rasanya masih berantakan. 

    Aneh, betapa tiga hal sesederhana itu saja sudah mampu membuatku merasa tenang, lega, dan… kembali hidup. 

    Meski aku juga sadar bahwa realitas di sekelilingku masih belum sepenuhnya berjalan sesuai rencana dan harapan, kondisi ekonomi dan finansial yang belum mapan, kondisi mental dan mood yang masih sering naik turun gak karuan.

    Dan di tengah termenungku di temani segelas kopi pagi ini, aku tersadar bahwa hidup sebenarnya tidak menuntut kita untuk memiliki lebih dari yang bisa kita nikmati hari ini untuk merasa tenang dan aman, meskipun kita hanya punya segelas kopi dan sepiring nasi untuk makan hari ini. Hidup juga tak pernah meminta kita untuk selalu berlari. Kadang ia hanya meminta kita hadir, melalui napas pelan tanpa paksaan. Sedetik demi sedetik, dan melakukan beberapa hal kecil yang bisa kita lakukan hari itu. 

    Nyatanya, satu langkah pun cukup membuatku merasa berarti, selama aku tidak berhenti.


    Ketika Hidup Memaksa Kita Memulai dari Awal

    Memulai kembali semuanya dari awal memang tidak mudah. Apalagi ketika semua rencana yang sudah kita susun dengan matang tiba-tiba berhenti di tengah jalan. Ketika hari demi hari berlalu dan tahun tiba-tiba sudah berganti, tetapi aku masih merasa stuck dan belum bisa kembali bangkit tegak berdiri. Rasanya seperti harus membaca sebuah buku baru, namun ternyata isinya sama seperti buku lama yang sudah pernah kita baca. Sedih, dan tentu saja kecewa. Melelahkan sekaligus juga menyesakkan. 

    Tapi akan lebih kecewa lagi jika kita tidak membacanya sama sekali. Begitu juga dengan impian dan rencana yang sudah kita susun dengan hati-hati lalu gagal dan kita dipaksa untuk mengulang lagi. Tentu akan sangat melelahkan. Tetapi akan lebih melelahkan jika kita tidak mencoba memulai sama sekali atau memulainya dengan hati dan pikiran yang tergesa. 

    Itulah yang aku pelajari dari perjalananku selama 8 tahun berusaha bangkit menata hidup dan merawat mimpi, yang kadang tidak selesai sama sekali, kadang berhenti di tengah jalan, kadang juga hancur berantakan gak karuan.

    Tapi, bukankah Hidup punya ritme, sama seperti tarikan napas, dan setiap napas hanya bisa diambil satu per satu.

    Dari kegagalan dan kekecewaan ini, aku belajar untuk tidak lagi berjalan lebih cepat, alih-alih berlari, aku belajar untuk memperlambat langkahku, aku tidak terburu-buru. Yang penting aku tidak berhenti.

    Langkah yang pelan, tenang dengan ritme yang teratur sambil belajar menikmati proses. Belajar menghargai perubahan kecil yang nyaris tak terlihat, dan belajar melakukannya satu per satu dengan penuh kesadaran dan ketenangan. 

    Misalnya, ketika aku berhasil bangun tanpa marah pada diri sendiri. Ketika aku membuat kopi tanpa rasa bersalah. Ketika aku menulis satu halaman tanpa menilai diriku terlalu keras.

    Perubahan-perubahan kecil itu tidak terlihat heroik dari luar. Tapi dialah pondasi baruku.

    Dan kalau boleh jujur, perubahan kecil itulah yang membuat hidupku mulai terasa pulih. Tidak spektakuler, tapi jujur dan tulus. Tidak cepat, tapi nyata.


    Titik balik dari Seorang Ibu Tunggal yang sedang Berusaha Bangkit

    Siapa sih yang gak capek setelah, 10 tahun lebih menjadi seorang ibu tunggal yang harus menyelesaikan nyaris semuanya sendirian? Dan siapa yang gak lelah ketika impian yang sudah di usahakan selama 8 tahun lamanya tetapi tetap saja belum menunjukkan tanda-tanda keberhasilannya? 

    Dari situlah aku seringkali merasa menjadi sosok yang lemah dan tak berarti. Terlebih ketika dunia gemar menargetkan pencapaian-pencapaian besar, ketika di luar sana banyak sekali perempuan, Ibu tunggal yang suka mempertontonkan kesuksesan-kesuksesan besar, tanpa menunjukkan proses dan langkah nyata yang mereka ambil. 

    Ya, aku pernah terperangkap dalam keyakinan bahwa aku harus melakukan sesuatu yang “besar dan spektakuler” untuk merasa hebat dan dianggap sebagai Ibu yang sukses Ibu yang berhasil. Agar anak-anakku bangga, agar orang tua dan saudara-saudara ku hadir dan memberi tepuk tangan, agar hidupku terasa berarti, dan masa lalu yang pahit itu tidak lagi menang atas diriku.

    Sejak malam gelap dan sunyi itu datang menghampiri semestaku, ada hari-hari ketika aku tidak punya pekerjaan dan penghasilan tetap, uang benar-benar tidak ada di kantong, dompet maupun di laci lemariku meski cuma 500 perak, rokok pun hanya tinggal sepuntung di asbak, kopi hanya menyisakan bubuk terakhir di toples, bahkan beras pun hanya cukup untuk satu kali masak.

    Ada satu fase ketika tubuhku sangat lelah dan pikiran sudah buntu oleh penat, kebutuhan hidup medesak dan berteriak minta dipenuhi, sementara pikiranku sendiri sibuk dihantui ketakutan yang sulit dijinakkan, tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Ada satu hari ketika aku sangat membutuhkan bahu untuk bersandar dan telinga untuk mendengar… tetapi semuanya terasa menjauh, bahkan menghilang.

    Dalam situasi dan kondisi seperti itu, kata-kata motivasi tentang ketenangan dan semangat hidup justru jadi terdengar seperti perintah untuk memindahkan gunung setelah berjalan kaki sejauh sekian ribu mill.

    Tenang saat kondisi ekonomi dan finansial sudah mapan, atau tenang saat kita punya uang mungkin satu hal yang sangat mudah dilakukan oleh siapa saja. Tetapi bersikap tenang dengan kondisi perut lapar namun tidak ada yang dimasak atau dimakan, tenang saat ada tagihan dan tanggung jawab yang harus segera di bayar sementara uang sepeserpun tidak ada di tangan adalah satu hal yang sama sekali tidak masuk akal bisa dilakukan. Sungguh sangat tidak mudah.

    Dan itu semua seringkali membuatku tertampar dengan kata-kata "Kalau mereka bisa kenapa kamu enggak?", "Masa' gitu aja gak bisa sih?", "Merek sudah di titik puncak lho masa' iya kamu masih gini-gini aja?", "Mereka udah pada bangkit dan sukses lho, masa' kamu masih jalan di tempat?"

    Semua ungkapan itu bukan hanya suara berlebihan yang muncul di kepala, tetapi suara yang benar-benar nyata dan sering aku dengar dengan telinga ku sendiri, suara yang sering keluar justru dari orang-orang yang dekat denganku.

    Dulu mungkin aku langsung nangis, langsung mengutuki keadaan dan menyalahkan diri sendiri mendengar ungkapan-ungkapan dan kritik yang pedasnya melebihi tahu tek telor cabenya 5. Tapi sekarang, aku gak terlalu peduli dengan suara-suara bising di luar sana. 

    Karena, hidup sebenarnya adalah guru yang keras. Setelah kehilangan orang-orang yang kucintai, setelah usaha yang kutopang dengan seluruh jiwaku runtuh, setelah hampir 11 tahun lamanya aku melalui malam-malam gelap jiwa yang membuatku merasa seperti bayangan di dunia sendiri, dan setelah hampir 8 tahun lamanya berjuang berusaha untuk bangkit dan mengembalikan keadaanku seperti sebelum aku "jatuh", barulah aku belajar satu hal penting bahwa:

    Bukan pencapaian besar atau kesuksesan besar, namun justru langkah-langkah kecil yang kulakukan dengan sadar dan konsisten itulah yang perlahan membuatku mampu kembali menegakkan kepala dan tubuh rapuhku ini.

    Bangkit tidak selalu harus tampak heroik. Seringkali ia hadir dalam bentuk keputusan kecil yang membuat kita tetap bergerak setiap hari.

    Namun, itulah hidup. Selalu saja ada tantangan, ujian dan cobaan yang harus aku taklukkan tidak peduli seberapa rumit dan beratnya realitas di sekelilingku. Dan di fase-fase sulit itulah justru aku menemukan sebuah tantangan, bagaimana aku tetap bisa beristirahat dan tidur nyenyak, tetap bisa minum kopi dan menikmati makanan hari ini tanpa rasa bersalah sama sekali.  

    Bagaimana aku tetap berusaha melakukan satu langkah dan tindakan nyata, meskipun kecil, tetapi mampu membuatku tetap merasa berarti, membuat hati dan pikiran ini tetap tenang dan selalu bersyukur, menikmati apa yang masih bisa kunikmati sekalipun itu hanya tarikan dan hembusan nafas yang masih tersisa di tubuhku yang lelah dan rapuh oleh keadaan ini.


    Tiga Langkah Kecil yang Menyelamatkanku Setiap Hari

    Ya, dalam situasi yang tidak mudah itu, aku tetap melakukan setidaknya tiga hal kecil, tiga langkah nyata yang aku lakukan secara sadar & konsisten setiap hari.

    Aku tidak menyebut ini metode. Aku menyebutnya pegangan hidup.

    Tiga hal kecil yang kulakukan bukan karena aku disiplin atau kuat, melainkan karena aku tidak ingin larut dan tenggelam dalam samudra persoalan dalam hidupku.

    1. Merapikan Satu Ruang Kecil: Mengembalikan Rasa Kendali

    Di masa-masa paling gelap, hidupku terasa di luar kendali. Terlalu banyak hal yang tidak bisa kuubah, terlalu banyak keputusan yang bukan milikku. Saat itulah aku mulai merapikan hal paling sederhana yang masih bisa kusentuh: rumahku.

    Bukan seluruh rumah. Kadang hanya meja kerjaku. Kadang hanya dapur kecil. Kadang hanya membuang sampah yang sudah terlalu lama menumpuk.

    Saat aku merapikan satu ruang kecil itu, ada rasa yang sulit dijelaskan. Seolah aku sedang berkata pada diriku sendiri: "setidaknya di sini, aku masih berkuasa untuk mengendalikan apa yang bisa aku kendalikan selain pikiranku yang terlalu sibuk dan persoalan demi persoalan yang seringkali datang tanpa di undang."

    Gerakan tanganku yang pelan membuat napasku ikut pelan. Pikiranku yang semula liar mulai sedikit jinak. Aku tidak sedang menyelesaikan hidup, aku hanya sedang menata satu sudutnya.

    Dan anehnya, satu sudut yang rapi sering kali cukup untuk membuat hari itu tidak benar-benar runtuh. 


    2. Menulis Meski Tak Ada yang Membaca: Menjaga Kewarasan

    Tidak hanya persoalan kebutuhan hidup saja yang sering datang menyabotase ketenangan dan kebahagiaanku. Impian dan usaha yang hampir 8 tahun lamanya aku bangun yang tak kunjung menuai hasil pun berperan aktif menyita energi dan ketenangan batinku.

    Ya, 8 tahun ini aku telah jatuh bangun bergumul dengan kegagalan dan kekecewaan, dimana ketika aku sudah berusaha keras namun semuanya terasa sia-sia, hidupku tak kunjung berubah, aku merasa seolah usaha dan upayaku untuk bangkit terasa sia-sia. Ada masa ketika aku menulis tetapi tidak menghasilkan apa-apa. Tidak uang, tidak pujian, bahkan tidak juga mendapatkan perhatian. 

    Namun aku tetap menulis. Bukan karena yakin akan masa depan menjadi penulis terkenal, tetapi karena menulis adalah satu-satunya cara agar aku tidak hancur di dalam.

    • Aku menulis untuk menurunkan beban di kepala.
    • Menulis untuk memberi tempat pada emosi yang tak punya ruang.
    • Menulis agar aku tidak terus menyalahkan diri sendiri.

    Kadang aku hanya menulis satu paragraf. Kadang hanya satu kalimat. Kadang juga cuma satu kata yang terasa jujur hari itu.

    • Menulis bukan tentang produktivitas.
    • Menulis adalah tentang bagaimana mentalku tetap waras. Di saat dunia tidak mendengarkan, aku memilih untuk mendengarkan diriku sendiri.


    3. Bersyukur Tanpa Pura-pura: cara bertahan dengan Jujur

    Dari semua kepahitan yang aku ceritakan, aku pernah merasa bersalah karena tidak bisa selalu bersyukur dengan versi yang manis dan aesthetic. Ya, di hari-hari ketika dunia terasa sesak & sempit, bagaimana mungkin aku berpura-pura bahagia?

    Dari situlah, aku memilih untuk belajar bersyukur dengan cara yang jujur. Mensyukuri apapun yang masih bisa aku sukuri, sekalipun kecil, seperti:

    • Bersyukur karena masih bernapas.
    • Bersyukur karena aku dan anak-anakku masih bisa makan hari ini, meski sederhana.
    • Bersyukur karena aku masih bisa bangun dari tempat tidur, meski berat.

    Syukur yang mungkin menurut sebagian orang tidak indah, tidak populer. Syukur yang tidak ku unggah di platform sosial media manapun. Syukur yang hanya kusimpan sendiri dan di dengarkan oleh diriku sendiri.

    Syukur semacam ini mungkin tidak menghapus persoalan, permasalahan dan kesedihan. Tapi setidaknya membuatku bertahan tanpa harus membenci takdirku sendiri.

    Dan tiga hal yang aku lakukan tadi adalah langkah nyata yang aku lakukan dengan sadar, yakni tindakan yang aku pilih karena hanya itu yang bisa aku lakukan daripada menangis, meratap atau mengeluh yang tidak bisa merubah keadaan. 

    Tiga hal yang aku lakukan dengan sadar, meski tidak merubah keadaan seketika itu juga tetapi setidaknya mampu merubah kepanikan dan kecemasanku menjadi ketenangan. 

    Di tengah perjalanan ini, aku belajar mengingatkan diri sendiri dengan sebuah suara dari dalam hati yang seringkali menjadi seperti mantra kecil:

    “Tak perlu berlari mengejar hal-hal besar hanya untuk membuktikan keberadaan diri. Cukup lakukan tiga hal kecil setiap hari, dengan penuh kesadaran, dan biarkan hidup menata ulang arahnya. Toh pelan bukan berarti kita kalah, toh hidup juga bukan ajang perlombaan.”

    Suara itu sering datang saat aku sedang berada di titik paling rapuh, dan anehnya selalu berhasil memberi ruang bagi napas yang hampir putus. Suara itu, membawa ketenangan untuk jiwa yang kelelahan, dan kelegaan bagi seorang Ibu tunggal yang kerap merasa tidak cukup berarti, jiwa yang sering merasa tidak layak di mata dunia, setelah entah berapa kali jatuh dan bangkit lagi.

    Aku percaya, suara itu bukan sekadar pembelaan atas kekuranganku dan ketidakmampuanku atau tameng dari kelemahanku. Suara itu adalah hasil dari kontemplasi panjang, dari hari-hari yang merobohkanku sekaligus memaksaku bangun kembali. Itu suara hatiku sendiri, yang mengingatkanku untuk berhenti menyiksa diri dengan standar dunia yang seringkali terlalu keras, terlalu tergesa, dan terkadang terlalu tidak manusiawi.


    Kenapa Tiga Hal Kecil Ini Penting?

    Karena di saat aku tidak punya kuasa atas banyak hal, tiga langkah kecil ini memberiku satu hal yang sangat berharga: rasa hadir.

    • Aku tidak lagi menunggu hidup berubah dulu baru tenang. 
    • Aku belajar tenang agar hidup bisa bergerak pelan-pelan.
    • Aku tidak menunggu sukses dan kaya untuk tenang dan bahagia, tetapi kebahagiaan dan ketenangan lah yang akan mengantarkan langkahku menuju kesuksesan, meski pelan.

    Tiga langkah kecil ini tidak membuatku langsung sampai ke tujuan. Tapi ia memastikan aku tidak berhenti berjalan.

    Dan dari sanalah aku mulai sadar, bahwa kesadaran bukan sesuatu yang tinggi dan spiritual. Kesadaran itu sesuatu yang simple dan membumi. Ia hadir di pilihan-pilihan kecil yang kita ambil setiap hari, terutama saat hidup sedang berat.


    Bagaimana Langkah-Langkah Kecil Itu Mulai Mengubah Hidupku

    Anehnya, ketika aku berhenti memaksa diri untuk menjadi “besar” dan mulai menghargai hal-hal kecil yang sanggup kulakukan hari ini, hidupku justru terasa lebih lapang. Tidak ada perubahan dramatis seperti kisah-kisah para motivator hebat di atas panggung seminar; tidak ada momen heroik yang tiba-tiba membalikkan nasib. Yang ada hanyalah pergeseran-pergeseran kecil—tetapi nyata.

    Aku mulai menyadari bahwa ketika rumah sedikit lebih rapi, pikiranku juga ikut pelan-pelan tertata. Ketika aku menyelesaikan satu paragraf tulisan, meski pendek, ada bagian dari diriku yang merasa kembali utuh. Ketika aku berhasil membuat kopi dan menikmatinya tanpa rasa terburu-buru, aku seperti diingatkan bahwa diriku masih pantas menikmati sesuatu yang sederhana.

    Hari-hari kecil itu ternyata menyembuhkan.

    Ada pagi ketika aku bangun dengan hati yang lebih ringan. Ada siang ketika ketakutanku terhadap masa depan tidak lagi sekeras biasanya. Ada malam ketika aku bisa menatap diriku di cermin dan berkata pelan, “Aku masih di sini. Dan itu sudah cukup.”

    Perlahan-lahan, langkah-langkah kecil itu seperti benih yang kutanam tiap hari. Tidak terlihat pada awalnya, tapi di dalam tanah yang gelap, sesuatu sedang tumbuh.

    Bayangkan setiap hari sebagai lembaran baru, kesempatan untuk menata hidup dengan lebih baik. Memulai dengan hal-hal sederhana yang bisa aku lakukan, seperti merapikan rumah, mencabut rumput di halaman, menulis meski hanya satu paragraf dan sebagainya. Hal-hal kecil ini dapat menciptakan perasaan keteraturan dan kontrol emosi yang bisa memotivasi kita sepanjang hari.

    Dari sinilah, aku mulai berani bermimpi lagi. Tidak besar-besar, hanya mimpi sederhana: ingin hidup sedikit lebih stabil, ingin membangun kembali kepercayaan diriku, ingin melihat anakku tersenyum padaku tanpa beban di pundakku. Mimpi-mimpi kecil itu membuatku terus berjalan meski tertatih.

    Dan semakin jauh aku melangkah, semakin aku percaya: mungkin memang begini cara Tuhan merawat orang-orang yang pernah hancur—bukan dengan keajaiban besar, tapi dengan langkah-langkah kecil yang membuat kita kembali menjadi manusia.


    Menutup Hari dengan Kesadaran yang Lebih Lembut

    Kita sering lupa bahwa langkah kecil juga layak dirayakan. Kita sering meremehkan diri sendiri karena merasa belum “jadi apa-apa”. Tapi bukankah pohon besar pun tumbuh dari bibit kecil yang awalnya bahkan nyaris tak kelihatan?

    Setiap hari, dengan 3 langkah kecil yang aku lakukan secara konsisten, aku belajar mengakhiri hari tanpa beban berlebihan. Dengan satu kesadaran sederhana: aku sudah melakukan yang bisa kulakukan. Dan itu cukup.

    Karena menata hidup tidak harus dilakukan dengan hiruk-pikuk. Kadang semua dimulai dari keberanian untuk melakukan hal yang paling kecil yang bisa kita lakukan.


    Refleksi Harian Memulai dari Awal Tanpa Merasa Tertinggal

    Kini, tidak apa-apa jika aku harus memulai kembali dari awal, menata ulang semua impian yang sempat terhenti atau bahkan sudah hancur berantakan. 

    Dari situ mungkin aku mulai memahami satu hikmah yang dulu tak pernah kupahami: hidup tidak menuntut kita untuk mengejar garis finish paling dulu. Hidup hanya meminta kita untuk tidak berhenti, meski jalannya pelan, meski terseret, meski penuh air mata. 

    Karena setiap langkah kecil yang kita lakukan hari ini adalah jembatan menuju versi diri kita yang lebih kuat bahkan lebih baik.

    Dari setiap kegagalan dan kekecewaan aku juga belajar bahwa perjalanan hidup seorang ibu tunggal yang kerap melewati malam-malam gelapnya sendirian, bukan tentang lompatan besar atau kemenangan dramatis. Namun lebih mirip sungai kecil yang terus mengalir, pelan, tapi pasti. Dan refleksi harian inilah yang menolongku menata hidup perlahan-lahan.

    Ya, Refleksi harian adalah kunci penting dalam proses ini. Meluangkan waktu beberapa menit setiap malam untuk diam dan merenung. Apa yang telah aku capai hari ini? Apa yang bisa diperbaiki? Dengan berpikir kritis dan jujur pada diri sendiri, aku dapat belajar dari pengalamanku sendiri dan kembali membuat rencana untuk hari esok yang lebih baik.

    Kadang aku masih menangis diam-diam karena ketakutan yang datang tanpa permisi. Kadang aku masih merasa tidak cukup baik, tidak cukup hebat, tidak cukup layak. 

    Namun setiap kali perasaan itu muncul, aku kembali pada tiga hal kecil yang bisa aku syukuri hari ini, 3 hal kecil yang aku lakukan dengan sadar dan 3 hal yang masih bisa aku lihat, aku raba dan aku rasakan. Itu semua seperti tiga jangkar kecil yang menahanku agar tidak hanyut dan tenggelam.

    Di titik ini, aku belajar menerima bahwa menjadi manusia berarti bersedia patah, tetapi juga bersedia tumbuh kembali. Tidak apa-apa bila tumbuhnya lambat. Tidak apa-apa bila hasilnya belum terlihat. Kita tidak sedang berlomba dengan siapa pun.

    Setiap hari kita hanya perlu hadir, lalu melakukan hal-hal kecil yang sanggup kita lakukan tanpa menyakiti diri sendiri.

    Selain itu, jangan lupakan kekuatan syukur. Menyadari hal-hal baik yang sudah kita miliki bisa memberikan energi positif dan semangat baru. Dengan bersyukur, kita lebih mudah melihat sisi baik dari setiap situasi.

    Biarkan langkah-langkah kecil yang konsisten dan dilakukan dengan penuh kesadaran itu menata ulang hidupmu pelan-pelan, sebagaimana aku sedang menata hidupku saat ini. '

    Tiga langkah kecil setiap hari tidak akan merubahku mendadak kaya dan sukses dalam semalam atau 7 hari ke depan, tetapi dengan langkah-langkah kecil namun konsisten, aku bisa membangun kehidupan yang lebih seimbang dan harmonis. Menciptakan ketenangan dan energi positif setiap hari.

    Ingatlah, perubahan besar sering kali dimulai dari keputusan kecil yang diambil setiap hari, dari dapur mungil yang berantakan, dari tumpukan tulisan yang bertahun-tahun hanya mengendap di folder draft saja, bahkan dari keramaian dan kekacauan pikiran yang pelan-pelan aku terima dengan tenang.

    Dan jika harimu saat ini terasa berat, pegang satu hal ini:

    Pelan bukan berarti kalah. Pelan berarti kita masih bergerak. Dan itu sudah cukup.

    Kadang perlahan justru cara paling manusiawi untuk kembali menjadi manusia yang seutuhnya. Manusia yang punya makna.


    "Terima kasih sudah mampir ke diari kecilku. Jika tulisan ini bermanfaat dan menyentuh hatimu, dukunganmu sangat berarti."

    Mandiri
    Bank Mandiri 1480019359200
    Bank Jago
    Bank Jago 102476639097
    Dana
    E-Wallet Dana 082154978885
    Gopay
    Gopay 082154978885
    Atas Nama: Gunarti
    Lebih lamaTerbaru

    Posting Komentar

    Jangan lupa tinggalkan komentar ya, aku akan sangat senang berdiskusi dengan kalian