Nulis Dulu, Duit Nanti: Mengapa Aku yakin dengan Passionku?

Daftar Isi [Tampil]
    blogger perempuan menulis di malam hari ditemani secangkir kopi, refleksi passion dan strategi menghasilkan uang dari blog

    Bertahun-tahun berjuang tanpa hasil yang signifikan_dalam hal materi, rasanya lebih menyakitkan daripada patah hati karena cinta. 

    Seperti sudah berusaha jadi orang yang jujur dan tulus, tapi tetap saja ga ada yang mau percaya, atau… sudah berusaha jadi orang yang mencintai dengan tulus tapi masih aja dibohongin, diselingkuhin wkwkwkkkk…

    Hingga aku sering diam-diam menangis sendirian saat malam tiba dan anak-anak sudah terbuai dalam mimpinya. 

    Bukan menangisi mantan atau kisah percintaanku yang putus di tengah jalan, tapi karena tulisanku_yang kutulis dengan sepenuh hati segenap jiwa harus berakhir sepi tanpa views, tanpa pembaca.

    Ga ada atensi, gak ada interaksi. Jangankan orang lain, teman, saudara atau keluarga, anakku sendiri pun nyaris gak pernah membaca satu pun tulisanku… ironis gak tuh? Lol...

    Alih-alih menghasilkan uang lewat tulisan, aku malah sering menerima nyinyiran, dianggap tidak realistis, dibilang terlalu banyak berhalusinasi, terlalu sabar merawat impian kosong.

    Tapi anehnya, itu semua tidak membuat semangat dan keinginanku untuk terus menulis benar-benar padam. 

    Entah mengapa aku masih saja rela menghabiskan waktu berjam-jam, sampai leher dan bahu terasa panas, kadang nyeri dan kaku, demi menghasilkan sebuah tulisan yang berpotensi menghasilkan cuan.

    Menulis Bukan Sekadar Hobi

    Menulis menjadi seperti racun yang membuatku kecanduan. Beberapa ide tulisan tiba-tiba muncul begitu saja, tanpa diminta, bahkan ketika aku tidak sedang berhadapan dengan laptop atau buku. 

    Meski belum tentu aku publikasikan, meski aku juga tahu bahwa tulisanku belum tentu viral, meski hanya corat-coret di buku atau kertas, meski belum bisa menghasilkan uang secara signifikan, aku tetap ingin menulis. 

    Mungkin lima atau empat tahun silam, aku menulis di sini demi uang, untuk mengubah kondisi ekonomi dan finansialku yang terpuruk karena kebangkrutan dan kegagalan. Namun, seiring berjalannya waktu, uang justru tidak lagi menjadi alasan utama.

    Dulu aku juga menulis hanya sekadar hobi. Kegiatan sambil lalu. Yang aku lakukan kalau ada waktu luang saja. Tapi sekarang, kalau gak nulis, rasanya ada yang kurang dalam hidupku. Menulis sudah seperti caraku untuk bernapas.

    Setiap hari, setiap bangun tidur, hal pertama yang aku pikirkan hanyalah ingin menulis_menuangkan semua yang berisik di kepala, entah itu sekadar uneg-uneg, ide, atau imajinasi menjadi sebuah tulisan. 

    Setiap kali duduk di depan laptop, dengan segelas kopi hitam dan berbatang-batang rokok yang selalu jadi teman setia serta sisa tenaga hari itu, aku merasa hidup kembali. Di saat aku tidak tahu harus apa dan bagaimana, menulis selalu jadi tempatku untuk "pulang" dan membuatku kembali merasa "utuh".

    Karena aku merasa bahwa menulis sering kali menjadi salah satu aktivitas yang membuat hari-hari berat jadi terasa sedikit ringan, pikiran yang kacau bisa sedikit tenang, dan suasana hati yang berantakan jadi mudah tertata kembali. 

    Berusaha tetap Realistis

    Ada masa dalam hidupku ketika setiap hari aku harus bergumul dengan keputusan yang harus dihitung dengan logika dan angka: saldo hari ini masih cukup gak ya untuk besok? Stok beras di dapur masih aman gak ya? 

    Begitu juga ketika aku memutuskan untuk menulis sebagai salah satu cara untuk menghasilkan uang. Ini keputusan realistis atau hanya keputusan nekat yang spekulatif?

    Pertanyaan semacam itu mungkin juga sering muncul di benak orang-orang di sekelilingku, bahkan ada yang bertanya langsung. Kenapa tidak realistis saja dan mencari jalan atau cara yang cepat menghasilkan uang? Kenapa tidak jualan saja? Kenapa tidak kerja apa saja yang penting ada pemasukan?

    Ya, tentu saja aku tetap mencari pekerjaan atau mengerjakan pekerjaan lain sebagai pekerjaan utama yang lebih menjanjikan sebagai sumber penghasilan tetapku. Aku juga tidak serta-merta mempertahankan idealismeku. Aku tetap realistis

    Terlebih ketika menulis, jujur saja, tidak pernah terlihat seperti pilihan yang “aman”. Tidak ada jaminan kesuksesan. Tidak ada yang bisa memastikan kapan uangnya datang.

    Tetapi aku tidak mau membunuh sesuatu yang membuatku "hidup". Itulah sebabnya aku memilih untuk terus menulis, meskipun statusku adalah seorang pekerja penuh waktu di luar rumah.

    Aku menulis bukan karena sudah punya uang, bukan juga karena hati dan pikirnku sudah tenang, tapi karena aku ingin tetap waras.Yohana Gunarti

    Mengapa aku yakin dengan passionku?

    Kadang aku pikir, mungkin aku ini tipe orang yang agak lain dari orang lain alias aneh. Orang lain kalau capek sepulang kerja atau rutinitas harian lainnya, pasti pengennya rebahan sambil scroll sosmed atau nonton drakor atau segera beristirahat_tidur.

    Lah, aku? Capek-capek pulang kerja bukannya segera tidur atau rebahan, malah nyeduh kopi, buka laptop, buka blog atau buku jurnal, ngetik paragraf demi paragraf yang kadang aku juga belum tahu mau nulis apa.

    Bahkan, ketika segala macam kritikan dan nyinyiran sepedas apa pun ditujukan kepadaku, belum ada yang mampu menghentikan keinginan dan minatku untuk menulis.

    Pernah ada temen yang tiba-tiba nyeletuk, “Kamu tuh kebanyakan ngayal, nulis terus tapi nggak ngasilin duit, buat apa?” "Alah… paling nulis-nulis curhat galau aja, emang siapa yang baca?" Dan masih banyak lagi komentar senada yang sering aku terima.

    Aku cuma diam atau tersenyum. Kadang juga bertanya-tanya pada diri sendiri, "Iya ya… emang apa sih manfaatnya aku nulis-nulis begini?

    Entahlah...

    Kadang aku sendiri bingung: ini semangat atau sekadar penasaran? Ini passion atau cuma ego yang keras kepala?

    Tapi kalau boleh jujur, dan ini serius. Seperti yang aku sampaikan tadi, awalnya aku memang menulis karena ingin mendapatkan uang, agar anak-anakku bangga, agar semua orang yang mengenalku memberi tepuk tangan karena aku berhasil memulihkan kondisi ekonomiku yang terpuruk karena kebangkrutan dari tulisan-tulisanku.

    Namun, sekarang, setelah 5 tahun lebih berjuang dan tulisan-tulisanku belum ada yang viral atau belum menghasilkan uang, aku masih tetap menulis. Semangatku juga masih sama.

    Sering kali passion disalahartikan sebagai perasaan semangat sesaat. Padahal passion yang sesungguhnya diuji saat tidak ada hasil.

    Saat tulisan sepi pembaca.
    Saat tidak ada komentar.
    Saat tidak ada yang membayar atau menghasilkan reward dalam bentuk apa pun.

    Ya, passion adalah sesuatu yang tetap kita lakukan bahkan ketika tidak ada yang memberi pujian atau bayaran. Dan di situlah aku yakin inilah passionku, gairah hidupku.

    Bagi sebagian orang, menulis mungkin hanya sekadar hobi, tetapi bagiku, ini lebih dari itu. 

    Karena aku mulai sadar: passion tanpa disiplin tidak akan menjadi apa-apa, mungkin hanya akan jadi hobi. Tetapi passion yang dijaga dengan kebiasaan, dengan komitmen, pelan-pelan akan berubah jadi karakter. 

    Artinya, passion yang dipelihara melalui kebiasaan dan komitmen dapat berkembang menjadi karakter yang menjadi sumber kekuatan sejati. Walaupun tantangan terus muncul, aku menyadari bahwa menulis telah membentukku menjadi individu yang lebih sabar, tangguh dan penuh semangat.

    Passion bukan soal hasil langsung. Passion itu ibarat menanam pohon. Hari ini ditanam, belum tentu besok berbuah. Tapi saat berbuah, ia bisa jadi tempat berteduh bukan hanya untukku, tapi juga untuk orang lain.

    Ini adalah panggilan jiwa, sebuah petualangan tak berujung yang membawaku menjelajahi dunia imajinasi tanpa batas. Walau belum pernah mendapatkan imbalan materi dari setiap huruf yang kutulis, semangatku tak pernah surut.

    Aku pernah mendengar sebuah ungkapan dari Emha Ainun Najib atau yang akrab disapa Cak Nun dalam satu ceramahnya. Di sana beliau mengatakan: 

    Cari bahagia jangan cari uang. _Emha Ainun Najib

    Kalimat itu sederhana, tapi diam-diam menamparku. Lebih lanjut, beliau juga menjelaskan bahwa "kalau kamu bahagia mengerjakan sesuatu terus kamu kerjakan dengan tekun, disiplin, gemi, titi, ngukuh uri-uri tenan, uang akan datang dengan sendirinya. "

    Artinya, ketika kita tekun, disiplin, gemi, teliti, dan berusaha keras mengasah sesuatu sampai benar-benar ahli, uang akan datang sebagai akibat, bukan tujuan. 

    Sejak saat itu aku berhenti melihat menulis sebagai perjudian atau pilihan spekulatif. Aku melihatnya sebagai proses realitis untuk menjadi ahli. Sehingga, setiap tantangan yang datang kujadikan kesempatan untuk belajar dan berkembang.

    Dari situlah aku juga percaya pada satu hal: 

    Skill yang terus diasah akan menemukan jalannya sendiri.

    Hari ini mungkin hanya tulisan di blog. Besok bisa jadi buku digital. Lusa mungkin kerja sama brand. Atau penghasilan dari affiliate. Semua kemungkinan itu tidak akan pernah ada jika aku berhenti di tengah jalan.

    Menulis dengan segenap cinta dan gairah membuat setiap hari terasa lebih bermakna. Dan bagiku, kepuasan, kebahagiaan lebih bermakna daripada sekadar materi. 

    Dunia mungkin belum melihat hasilnya sekarang, tapi aku tahu perjalanan ini adalah bagian dari proses yang akan membawaku ke tempat yang lebih baik.

    Nulis aja Dulu, Duit Nanti

    Seperti yang aku sudah sampaikan tadi, aku mulai melihat menulis bukan lagi pekerjaan untuk mencari atau mengejar uang, melainkan disiplin dan konsistensi kecil untuk membangun aset.

    Kedengarannya terlalu naif jika aku bilang aku tidak mengejar uang. Nulis aja dulu, duit nanti seperti kalimat pembelaan diri. Padahal di sini, yang aku maksudkan adalah menulis sebagai strategi jangka panjang untuk membangun aset.

    Ada perbedaan antara mengejar uang dan membangun aset.

    Mengejar uang mungkin bisa dilakukan dengan cara instan dan cepat, namun uang itu juga bisa habis dengan cepat. Tetapi membangun aset yang kuat pasti butuh proses, butuh waktu, dan justru itu yang biasanya bisa bertahan lebih lama.

    Dari sinilah aku mengubah mindsetku, dari aku menulis demi mengejar uang menjadi aku menulis karena sedang membangun aset yang bisa menghasilkan uang untuk jangka panjang.

    Tulisan ini termasuk aset, lebih tepatnya aset digital. Artikel yang aku tulis hari ini mungkin belum dibaca orang, belum viral, tetapi bisa saja dibaca orang setahun lagi. Bahkan lima tahun lagi. Selama blog ini masih hidup, tulisan-tulisanku juga akan tetap hidup, bahkan bisa bekerja untukku.

    Ini bukan sekadar mimpi kosong. Membangun aset adalah bagian dari strategi, dan jika hari ini aku masih menulis, aku sedang membangun sebuah strategi, menciptakan sebuah aset.

    Ada prinsip sederhana dalam dunia bisnis: uang mengikuti nilai (value).

    Jika tulisanku memberi manfaat, memberi inspirasi, memberi solusi, atau sekadar membuat orang merasa tidak sendirian, itu merupakan sebuah nilai atau value.

    Dan nilai itulah yang suatu hari bisa dikonversi menjadi penghasilan.

    Bukan dengan cara memaksa. Tapi dengan strategi yang tepat.

    Aku tidak menulis untuk mengejar viral.
    Aku menulis untuk membangun kepercayaan (trust).

    Dan kepercayaan adalah mata uang paling mahal di era digital.

    Banyak orang mendapatkan penghasilan dari blog, dari personal branding, dari konten yang konsisten untuk membangun kepercayaan. Tapi mereka tidak sampai di sana dalam semalam atau 10 hari. Mereka menulis dulu. Konsisten dulu. Bertahan dulu.

    Dan proses itulah yang sedang aku pilih.

    Penutup: Aku Belum Berhenti

    Hari ini mungkin belum terlihat hasilnya.
    Tapi aku tahu satu hal: aku sedang bergerak; aku belum berhenti.

    Setiap tulisan adalah langkah.
    Setiap publikasi adalah bukti bahwa aku tidak menyerah.

    Aku percaya pada proses.
    Aku percaya pada konsistensi.
    Dan aku percaya pada diriku sendiri.

    Mungkin ada orang yang sukses lebih cepat. Mungkin ada yang langsung menghasilkan jutaan dari tulisan atau konten pertama. Itu cerita mereka.

    Cerita ini adalah ceritaku. Perjalanan ini milikku

    Aku memilih menulis dulu.
    Aku memilih membangun fondasi.
    Aku memilih percaya bahwa kerja yang konsisten akan bertemu dengan waktunya sendiri.

    Belajar dari pengalaman, nyaris tidak ada yang instan dalam hidupku. Semua impian yang pernah aku raih selalu bermakna dan selalu datang lewat proses panjang. 

    Jadi, kalau menghasilkan uang dengan menulis juga butuh waktu, aku tidak keberatan.

    Karena setiap artikel yang aku buat bukan hanya tentang uang. Tetapi tentang identitas. Tentang keberanian. Tentang mimpi yang tidak mau mati.

    Menulis mungkin bukan jalan tercepat untuk menghasilkan uang. Tapi menulis adalah fondasi jangka panjang yang sedang aku bangun. 

    Kalaupun nanti jalannya berubah, menulis tetap akan jadi warisan sejarah sepanjang perjalanan hidupku. Bagian dari 

    Catatan harian seorang pemimpi_Diari Gunarti

    Kalau kamu pernah merasa bahwa passion terasa terlalu mahal untuk diperjuangkan, kamu tidak sendirian. Tinggalkan ceritamu di sini. Siapa tahu kita bisa saling menguatkan dan menemukan jalannya bersama.




    Lebih lamaTerbaru

    Posting Komentar

    Jangan lupa tinggalkan komentar ya, aku akan sangat senang berdiskusi dengan kalian