Diari Gunarti: Catatan Seorang Ibu yang Belajar Bangkit dalam Sunyi

Daftar Isi [Tampil]
Ilustrasi seorang ibu menulis di buku catatan di samping laptop dan secangkir kopi, untuk artikel Diari Gunarti tentang belajar bangkit dalam sunyi.


Secangkir Kopi, Sebuah Laptop, dan Mimpi yang Belum Selesai

Catatan seorang single mom introvert tentang mencari penghasilan dari rumah, belajar dunia digital, dan perjalanan menemukan diri sendiri.

Pagi ini aku membuka laptop dengan secangkir kopi hitam yang aromanya menyerupai doa. Di luar jendela, matahari belum sepenuhnya terbit, tetapi aku sudah lebih dahulu terjaga. Kebiasaan seorang ibu yang terbiasa memikirkan dan melakukan banyak hal sendirian, bahkan sebelum hari benar-benar dimulai.

Di meja, ada laptop yang menunggu dibuka. Di kepala, ada begitu banyak rencana yang terkadang justru membuatku bingung harus mulai dari mana.

Aku seorang single mom. Perempuan introvert yang kadang moody-an, suka berimajinasi, jarang tidur, tetapi punya banyak mimpi. Usia terus bertambah, kebutuhan hidup tidak bisa diajak bernegosiasi, sementara keinginan untuk membangun kehidupan yang lebih mandiri masih terus menyala.

Lalu, sesekali muncul sebuah pertanyaan yang cukup sederhana, tetapi tidak selalu mudah dijawab.

Bagaimana caranya seorang perempuan yang berjuang sendirian bisa tetap bertahan, mencari penghasilan, dan tumbuh tanpa harus kehilangan dirinya sendiri?

Aku belum memiliki semua jawabannya. Namun, aku tahu ada banyak hal yang ingin kupelajari dan masih banyak jalan yang ingin kucoba.

Barangkali, tulisan ini adalah salah satu caraku untuk memulai.

Mencari Napas Baru Lewat Bisnis Online dari Rumah

Aku pernah mencari berbagai informasi tentang pilihan pekerjaan dan bisnis yang memungkinkan seorang ibu tunggal seperti diriku tetap bisa bekerja dan menghasilkan uang dari rumah, bukan karena sedang bermimpi menjadi miliarder sebelum Lebaran, melainkan karena ingin memiliki penghasilan sendiri tanpa harus selalu meninggalkan rumah, tanpa harus mengabaikan tanggung jawab keluarga maupun kebutuhan dirinya sendiri.

Ada anak-anak yang ingin tetap kutemani. Ada kebutuhan sehari-hari yang harus dipenuhi. Ada pula keinginan sederhana untuk bisa membayar keperluan sendiri tanpa terus-menerus merasa khawatir tentang hari esok.

Pencarian itu pernah kutuangkan dalam tulisan berjudul 15 Pekerjaan atau Bisnis Ideal untuk Single Moms Introvert. Di sana, aku membahas beberapa alternatif yang bisa dipertimbangkan oleh ibu tunggal yang ingin membangun kemandirian finansial dengan cara yang sesuai dengan kondisi dan kemampuannya.

Masalahnya, menemukan informasi di internet jauh lebih mudah daripada menentukan langkah pertama.

Hari ini membaca tentang affiliate marketing. Besok menemukan peluang freelance. Lusa tertarik untuk menjual produk digital. Belum sempat mencoba satu hal, sudah ada lima ide lain yang mengetuk kepala.

Kalau semua ide bisa langsung menghasilkan uang, mungkin aku sudah punya cabang usaha di setiap sudut kamar. Sayangnya, ide yang banyak belum tentu sama dengan penghasilan yang nyata.

Kini, setelah melihat kembali tulisan tersebut, aku menyadari bahwa mengetahui berbagai pilihan hanyalah langkah awal. Tantangan berikutnya adalah menentukan pilihan, mempelajari keterampilan yang dibutuhkan, dan mulai mengerjakannya satu per satu.

Aku tidak ingin menjual mimpi seolah-olah penghasilan dari internet bisa datang hanya dengan bermodalkan ponsel dan secangkir kopi. Aku tahu ada proses, keterampilan, waktu, dan ketidakpastian yang harus dihadapi.

Untuk saat ini, aku masih mencari bentuk pekerjaan digital yang sesuai dengan kemampuanku, keadaan keuanganku, dan kehidupanku sebagai seorang ibu.

Belum sampai tujuan bukan berarti tidak bergerak. Setidaknya, aku sedang belajar membaca peta sebelum kembali melangkah.

Menjadi Introvert di Dunia yang Terlalu Bising

Aku menyukai kesunyian. Bukan karena tidak menyukai manusia, tetapi karena ada saat-saat ketika aku perlu menjauh dari keramaian untuk mendengar pikiranku sendiri.

Dan sayangnya, dunia kerja tidak selalu memahami kebutuhan itu.

Ada tuntutan untuk tampil, menawarkan diri, membangun jaringan, membuat konten, dan terus menunjukkan bahwa kita masih ada. Bahkan ketika bekerja dari rumah, seseorang tetap harus berhadapan dengan tenggat waktu, komunikasi, dan berbagai tuntutan yang tidak terlihat.

Bagi seorang introvert, pekerjaan remote atau freelance memang terdengar menarik. Kita bisa menghemat waktu perjalanan, bekerja dari ruang sendiri, dan mengatur sebagian ritme kehidupan.

Namun, bekerja dari rumah bukan berarti bekerja tanpa tantangan. Disiplin tetap diperlukan. Kesempatan tidak selalu datang dengan mudah. Dan ketika rumah sekaligus menjadi tempat bekerja, beristirahat, serta memikirkan persoalan hidup, batas-batasnya bisa menjadi kabur.

Aku sedang belajar mengenali ritmeku sendiri.

Kapan harus mengerjakan sesuatu, kapan perlu berhenti sebentar, dan kapan harus mengakui bahwa hari ini pikiranku memang tidak sedang bisa diajak bekerja sama.

Sebab, menjadi produktif bukan berarti harus terus bergerak setiap saat. Kadang-kadang, produktivitas dimulai dengan berhenti menyalahkan diri sendiri karena tidak mampu melakukan semuanya sekaligus.

Kecemasan, Insomnia, dan Pikiran yang Tidak Punya Tombol Mati

Ada malam-malam ketika tubuh ingin beristirahat, tetapi pikiran justru sibuk mengadakan rapat tanpa undangan.

Bagaimana dengan penghasilan bulan depan? Apakah keterampilan yang kupelajari cukup berguna? Bagaimana jika rencana ini tidak berhasil? Bagaimana jika aku sudah terlambat memulai?

Pertanyaan-pertanyaan itu terkadang datang bergantian, seolah-olah semuanya harus selesai dijawab sebelum aku boleh tidur.

Aku tahu bahwa memikirkan masa depan memang penting. Namun, terlalu lama tinggal di dalam kekhawatiran juga bisa membuatku kehabisan tenaga sebelum sempat melakukan sesuatu.

Aku ingin belajar menghadapi kecemasan dengan lebih baik. Mencatat hal-hal yang memenuhi kepala, menyederhanakan pekerjaan, mengambil jeda, dan memberi ruang bagi tubuh untuk beristirahat.

Aku juga belajar membedakan antara masalah yang memang perlu diselesaikan dan kemungkinan buruk yang baru hidup di dalam pikiranku.

Tentu saja, semua itu tidak selalu berjalan mulus. Ada hari ketika aku bisa menyusun rencana dengan tenang, tetapi ada pula hari ketika membuka laptop saja terasa seperti sedang menghadapi ujian nasional.

Kalau kamu pernah mengalaminya, mungkin kita sama-sama tahu bahwa hidup tidak selalu membutuhkan motivasi yang besar. Terkadang, kita hanya membutuhkan satu langkah kecil yang masuk akal untuk dilakukan hari ini.

Dan jika gangguan tidur atau kecemasan terus mengganggu kehidupan sehari-hari, mencari bantuan profesional juga merupakan bentuk kepedulian terhadap diri sendiri, bukan tanda kelemahan.

Bisakah Hidup dari Menulis?

Pertanyaan ini cukup lama berputar di kepalaku.

Aku suka menulis. Sejak dahulu, ada banyak hal yang ingin kuceritakan, pengalaman yang ingin kubagikan, dan pikiran yang terasa lebih mudah dipahami setelah dituangkan ke dalam kata-kata.

Namun, menyukai menulis dan memperoleh penghasilan dari menulis adalah dua hal yang berbeda.

Dunia digital menawarkan berbagai kemungkinan: menulis artikel, mengelola blog, menjadi penulis lepas, menyunting naskah, membuat konten, hingga menjual produk digital yang berkaitan dengan keterampilan menulis.

Aku tertarik mempelajari semuanya, meskipun masih harus memilah mana yang paling sesuai dengan kemampuanku saat ini.

Aku juga mulai memahami bahwa menulis di internet bukan hanya soal merangkai kalimat. Ada hal-hal lain yang perlu dipelajari, seperti memahami pembaca, menyusun artikel yang mudah ditemukan melalui mesin pencari, membangun portofolio, dan memperkenalkan karya kepada orang yang mungkin membutuhkannya.

Pengetahuan itu tidak otomatis mendatangkan klien atau penghasilan. Aku tetap harus belajar, berlatih, dan menemukan cara untuk mengubah keterampilan menjadi sesuatu yang memiliki nilai bagi orang lain.

Mungkin inilah bagian yang perlu lebih sering kuingat: aku tidak harus menunggu sampai merasa hebat untuk mulai membuat karya. Namun, aku juga tidak boleh berhenti belajar hanya karena sudah berhasil menghasilkan sesuatu.

Aku ingin menulis dengan jujur, meningkatkan kemampuan secara bertahap, dan membangun peluang yang nyata dari hal yang memang kusukai.

Bukan sekadar ingin disebut penulis, melainkan ingin memiliki keterampilan yang suatu hari bisa kuandalkan untuk menopang kehidupanku.

Belajar Hadir di Media Sosial Tanpa Kehilangan Diri Sendiri

Ada sesuatu yang lucu dari seorang introvert yang ingin membangun jejak digital.

Aku ingin membagikan tulisan, tetapi terkadang enggan muncul karena insecure atau kurang percaya diri. Aku punya banyak ide konten, tetapi beberapa di antaranya justru berakhir menjadi penghuni tetap folder draf dan galeri ponsel.

Rasanya seperti memiliki toko dengan banyak barang bagus, tetapi lupa membuka pintu depan.

Aku pernah mencoba berbagai tempat untuk membagikan tulisan dan gagasan. Ada yang sempat berjalan, ada yang berhenti di tengah jalan, dan ada pula yang masih menunggu perhatian yang lebih serius dariku sendiri.

Dari situ, aku belajar bahwa membuat karya dan memublikasikannya merupakan dua pekerjaan yang berbeda.

Sebuah tulisan bisa selesai, tetapi belum tentu dibaca. Sebuah desain bisa terlihat menarik, tetapi belum tentu sampai kepada orang yang tepat. Dan sebuah akun media sosial bisa memiliki banyak unggahan tanpa otomatis menghasilkan sesuatu yang berarti secara finansial.

Aku tidak ingin mengukur seluruh nilai karyaku hanya dari jumlah tayangan atau tanda suka. Namun, aku juga perlu belajar memahami bagaimana karya bisa menjangkau pembaca.

Barangkali aku tidak harus menjadi orang yang paling ramai di media sosial. Aku hanya perlu menemukan cara untuk hadir secara konsisten, dengan gaya yang sesuai dengan diriku.

Aku ingin berbagi tanpa harus berpura-pura menjadi orang lain.

Kalau dunia digital adalah pasar malam yang penuh lampu dan suara, mungkin aku memang bukan orang yang akan berdiri di tengah keramaian sambil berteriak menawarkan dagangan.

Aku lebih nyaman menyiapkan tulisan, merapikan meja, menyeduh kopi, lalu membuka pintu toko kecilku.

Tetapi tentu saja, sesekali aku tetap harus memasang papan nama agar orang tahu bahwa toko itu ada.

Ketika Ide dan Karya Ingin Menjadi Penghasilan

Aku tertarik pada dunia produk digital, termasuk template, jurnal, desain, dan berbagai bentuk karya yang bisa dibuat dengan keterampilan yang kupelajari.

Platform seperti Creative Market juga pernah menarik perhatianku sebagai salah satu tempat untuk mengenal peluang penjualan karya digital.

Aku menyukai gagasan bahwa sebuah karya yang dibuat dengan sungguh-sungguh dapat memiliki manfaat bagi orang lain, bahkan ketika pembuatnya tidak selalu hadir secara langsung.

Namun, aku juga memahami bahwa menjual karya digital bukan perkara membuat desain, mengunggahnya, lalu menunggu uang masuk sambil menikmati kopi kedua.

Ada kualitas produk yang perlu dijaga, kebutuhan pasar yang perlu dipahami, aturan platform yang harus dipelajari, dan cara pemasaran yang perlu diuji.

Aku masih perlu mencari tahu produk seperti apa yang realistis untuk kubuat, siapa yang mungkin membutuhkannya, dan bagaimana cara memperkenalkannya dengan sumber daya yang kumiliki.

Untuk sementara, aku ingin memulai dari apa yang sudah ada: pengalaman, tulisan, ide, keterampilan dasar mengolah dokumen, serta ketertarikanku pada desain dan dunia digital.

Aku tidak harus mengerjakan semuanya sekaligus. Bahkan, mungkin aku perlu lebih banyak menyelesaikan satu karya sederhana daripada terus menumpuk puluhan rencana yang terlihat menjanjikan.

Sebab, ide yang hanya disimpan akan tetap menjadi ide. Karya yang selesai setidaknya memberiku sesuatu yang bisa diperbaiki, dibagikan, dan mungkin suatu hari ditawarkan kepada orang lain.

Di Balik Semua Pencarian Ini, Aku Sedang Mencari Diriku Sendiri

Jika kupikirkan kembali, pencarianku selama ini sebenarnya bukan hanya tentang bisnis online, pekerjaan dari rumah, strategi menulis, atau bagaimana membangun penghasilan melalui internet.

Ada sesuatu yang lebih mendasar di balik semuanya.

Aku ingin kembali memiliki kendali atas kehidupanku sendiri.

Aku ingin menjadi ibu yang tetap bisa mendampingi anak-anak, tanpa mengabaikan kebutuhanku sebagai manusia yang juga memiliki keinginan, kemampuan, dan mimpi.

Aku ingin memiliki penghasilan sendiri, bukan demi terlihat berhasil di mata orang lain, melainkan agar bisa menjalani hidup dengan lebih layak, mandiri dan tenang.

Aku ingin terus menulis, membuat karya, mempelajari hal-hal baru, dan membuktikan kepada diriku sendiri bahwa usia, keadaan, serta berbagai pengalaman hidup tidak harus menjadi alasan untuk berhenti berkembang.

Tentu saja, aku masih memiliki banyak kekurangan.

Aku bisa berpikir terlalu lama sebelum bertindak. Aku terkadang membiarkan keraguan mengalahkan rencana yang sudah kususun. Ada banyak karya yang tertunda dan banyak kesempatan belajar yang belum kuubah menjadi tindakan nyata.

Aku tidak ingin menutupi semua kekuranganku itu dengan kalimat motivasi yang terdengar indah.

Justru karena aku menyadarinya, aku ingin mulai mengubah cara melangkah. Tidak harus dengan perubahan besar yang membuatku kewalahan, tetapi melalui pekerjaan kecil yang benar-benar kuselesaikan.

Satu tulisan yang diterbitkan. Satu keterampilan yang dipelajari sampai lebih paham. Satu karya yang selesai dibuat. Satu langkah yang mendekatkanku pada peluang penghasilan yang lebih pasti dan nyata.

Mungkin dari hal-hal sederhana itulah sebuah kehidupan perlahan dibangun kembali.

Pagi ini, kopi di samping laptopku mungkin akan segera dingin. Matahari sudah naik lebih tinggi, sementara beberapa pertanyaan di kepalaku belum juga menemukan jawaban.

Tidak apa-apa.

Aku tidak sedang menulis kisah seorang perempuan yang sudah berhasil menaklukkan hidup. Aku sedang mencatat perjalanan seorang perempuan biasa yang masih belajar berdiri lebih tegak di tengah keadaan yang tidak selalu mudah.

Seorang ibu. Seorang introvert. Seorang perempuan dengan banyak mimpi dan sesekali terlalu banyak berpikir.

Aku belum sampai ke tempat yang kuinginkan. Penghasilan yang kuimpikan belum menjadi kenyataan yang bisa kubanggakan. Masih ada pekerjaan yang harus kuselesaikan, keterampilan yang perlu kukembangkan, dan kebiasaan menunda yang harus kuhadapi.

Tetapi kali ini, aku ingin berhenti menunggu sampai semuanya terasa sempurna.

Aku ingin mulai dari apa yang ada, dengan kemampuan yang kupunya, sambil terus memperbaiki diri.

Lalu, di halaman buku harianku, kutulis satu kalimat sederhana:

“Aku belum sampai, tetapi aku sedang belajar melangkah. Dan kali ini, aku ingin memastikan bahwa langkahku benar-benar bergerak, bukan hanya berputar-putar di dalam kepala.”

Barangkali, itulah bentuk keberanian yang kubutuhkan sekarang.

Bukan keberanian untuk terlihat sukses, melainkan keberanian untuk menjalani proses tanpa harus berpura-pura sudah berhasil.

— Diari Gunarti

Berbagi informasi dan pengalaman lewat sebuah tulisan.

Komentar