| "Ngeblog itu ternyata susah." Illustration created by Yohana Gunarti with AI. |
Aku menulis artikel ini bukan untuk menceritakan keberhasilanku ngeblog_dalam arti sukses menghasilkan cuan dari blog_tetapi justru sebaliknya.
Kalian mungkin bertanya dalam hati, "Lalu…,
apa pentingnya aku membaca artikel yang tidak menceritakan tentang
kesuksesan dan keberhasilan ini?"
Jawabannya sederhana: justru karena itulah aku menulis artikel ini. Pertama-tama aku ingin meluruskan mindset keliru yang sering kita dengar lewat ungkapan-ungkapan seperti "Asal ada niat pasti bisa" atau "Orang lain bisa, masa kamu nggak?" Atau jargon-jargon manis tentang mudahnya menghasilkan uang dan membangun passive income dari blog.
Kalimat-kalimat seperti itulah yang sering kali menyederhanakan proses dan realita yang sebenarnya jauh lebih rumit dibandingkan dengan hasil yang diperoleh masing-masing individu.
Di sinilah aku akan mengulas dengan detail dan mendalam, baik dari segi teknis maupun psikologis, tentang beberapa hal yang tanpa aku sadari ternyata terbukti menjadi pemicu mengapa kesuksesan_untuk menghasilkan uang dari blog_ itu bisa tertunda?
Aku bukan pakar SEO, bukan mentor, apalagi ahli kesehatan mental. Tetapi semua yang aku tulis ini adalah berdasarkan pengalaman pribadiku sebagai seorang Ibu biasa, single parent, yang sudah hampir lima tahun ini jatuh bangun berjuang memulihkan ekonomi yang terpuruk_pasca mengalami kebangkrutan dan pandemi covid-19_ lewat jalur digital, khususnya melalui blog.
Jujur saja, sampai hari ini aku belum bisa memamerkan tangkapan layar saldo dolar atau foto liburan mewah hasil dari blog. Belum ada cuan konsisten yang bisa dibanggakan seperti para blogger sukses di luar sana.
Yang ada hanyalah proses panjang, jatuh bangun, dan berkali-kali bertanya pada diri sendiri: ini mau lanjut atau berhenti aja sih?
Pilihanku untuk bisa menghasilkan uang dari blog ini bukan karena fomo atau sekadar penasaran, apalagi hanya untuk ikut-ikutan. Tetapi impian ini adalah hasil kontemplasi panjang sejak aku mengalami kebangkrutan 8 tahun silam.
Ini juga bukan soal ambisi buta atau sekadar mencari validasi, tetapi satu-satunya keputusan terbaik untuk bangkit dan bertahan hidup ketika keadaan membawaku pada pilihan ini.
Meski dalam perjalanan ini aku berkali-kali gagal dan berkali-kali ragu. Tetapi entah kenapa setelah hampir lima tahun berjalan, aku tetap di sini, masih menulis, masih ingin terus belajar dan belum benar-benar ingin menyerah.
Tentang berbagai alasan dan tujuanku mengapa aku memilih menulis di blog _dan mengapa aku berharap bisa menghasilkan uang di sana, aku sudah menuliskan sejarah panjang awal mula perjalanan ini pada artikelku Tentang Tulisanku, serta satu artikel lamaku yang baru-baru ini sudah aku perbarui yang berjudul 5 Alasan Mengapa Menulis di Blog.
Jika saat ini kamu juga sedang mempertimbangkan untuk terjun ke dunia yang sama_seperti yang aku pilih saat ini, atau sedang berada di fase lelah dan merasa tertinggal, mungkin tulisan ini bisa menjadi cermin atau mungkin bisa jadi teman seperjalanan.
Bukan dimaksudkan untuk menakut-nakuti atau membuat semangatmu patah, tapi agar kamu benar-benar paham bahwa ternyata menghasilkan uang dari blog itu bukan sesuatu yang mudah.
Aku Kira Ngeblog itu Cuma Soal Nulis
Dulu aku mengira ngeblog itu sederhana. Sesederhana suara para motivator dan blogger sukses di luar sana.
Punya HP atau laptop, punya ide dan cerita, lalu tinggal menulis ditemani dengan secangkir teh atau kopi. Setelah itu, dunia membaca tulisan kita. Daftar AdSense, lalu cuan akan mengikutinya. Terdengar manis dan romantis, bukan?
Namun, kenyataannya? Hmm… tidak semudah itu, Ferguso!
Sama seperti bisnis lainnya, ngeblog memiliki tantangannya tersendiri yang selama ini mungkin jarang diceritakan secara jujur oleh para suhu blogger di luar sana.
Ngeblog itu ada tekniknya, ada strateginya, ada aturan
mainnya, bahkan ada biaya yang harus kita keluarkan agar blog yang kita bangun dengan
susah payah itu tidak menjadi kuburan digital yang sepi tanpa pengunjung.
Logika sederhananya begini: bayangkan sebuah blog itu
seperti lapak, kios, atau tempat usaha kita. Ketika tempat usaha itu
kurang menarik, lokasinya kurang strategis, bahkan kurang promosi
dalam bentuk apa pun, bagaimana usaha tersebut bisa ramai? Siapa yang tertarik untuk
datang dan membeli dagangan kita? Siapa yang mau jadi pelanggan jika bisnis atau usaha tersebut tidak dikelola dengan baik dan sungguh-sungguh?
Di dunia blogging pun demikian, jika tujuan kalian ngeblog untuk menghasilkan uang, kalian dituntut untuk memahami beberapa hal teknis dan strategis di bawah ini:
- Pertama, kalian harus memahami SEO (Search Engine Optimization). SEO adalah kunci agar blog kalian bisa ditemukan oleh mesin pencari seperti Google. Dengan melakukan optimasi SEO, peluang blog kalian untuk muncul di halaman pertama hasil pencarian akan lebih besar, dan ini berarti lebih banyak pengunjung yang datang.
- Kedua, konten adalah raja. Konten yang berkualitas, relevan, dan menarik adalah daya tarik utama bagi pengunjung. Pastikan kalian menulis dengan gaya yang unik dan sesuai dengan target pembaca kalian. Gunakan gambar atau video untuk menambah daya tarik visual dan membantu menjelaskan poin-poin penting dalam tulisan.
- Ketiga, konsistensi itu penting. Buatlah jadwal untuk mengunggah konten baru secara rutin dan konsisten, agar pengunjung selalu memiliki alasan untuk kembali ke blog kalian. Ini juga membantu dalam menjaga eksistensi blog di mata mesin pencari.
- Keempat, jangan lupakan promosi. Promosikan blog kalian di media sosial, forum, atau grup yang relevan. Bergabunglah dengan komunitas blogger lain untuk saling berbagi pengalaman dan saling mendukung.
- Kelima, pelajari analitik. Dengan memahami data analitik, kalian bisa mengetahui konten mana yang paling disukai, dari mana pengunjung datang, dan bagaimana mereka berinteraksi dengan blog. Informasi ini sangat berharga untuk menyusun strategi ke depan.
- Terakhir, jangan takut untuk berinvestasi. Entah itu dalam bentuk domain berbayar, hosting, atau bahkan kursus untuk meningkatkan skill blogging kalian. Anggaplah ini sebagai langkah untuk meningkatkan profesionalisme dan kredibilitas blog yang kalian kelola.
Ya, membangun blog itu persis seperti membuka usaha konvensional. Di dunia blogging, domain adalah lokasi atau alamat toko kita. Template adalah desain interior dan etalase yang dilihat pengunjung pertama kali. Agar blog kita ini ramai, kita melakukan promosi melalui iklan berbayar (Ads) dan distribusi konten.
Sementara itu, SEO, struktur konten, dan pengalaman pengguna (UX) adalah strategi pelayanan serta teknik merchandising yang memastikan pengunjung tidak hanya datang, tetapi juga betah dan ingin kembali lagi.
Terlebih lagi jika blog tersebut dikelola secara asal-asalan, tanpa menerapkan beberapa hal teknis dan strategis di atas.
Di era gempuran media sosial seperti sekarang ini_yang riuh seperti pasar malam, ngeblog ibarat berteriak di tengah keramaian. Tulisanmu boleh bagus, risetmu sudah lengkap seperti penulis esai, tetapi tanpa dukungan teknis dan distribusi, blog yang kamu kelola akan tetap tenggelam.
Tulisanmu boleh bagus, otentik, panjang, dengan riset kata kunci yang mendalam. Tampilan blog kalian juga sudah rapi, eye-catching, responsif dan ramah SEO.
Tapi tetap tidak bisa menjadi jaminan akan bisa menghasilkan engagement yang maksimal jika kalian tetap menggunakan prinsip “gratisan”. Template gratisan, domain gratisan, backlink gratisan, tidak ada anggaran untuk iklan, dan sebagainya. Semuanya akan sia-sia!
Lima tahun terakhir ini, aku sudah teramat sering ditolak Adsense, jualan produk pun percuma karena blog sepi pengunjung, membangun portofolio pun rasanya seperti hal yang sia-sia karena sering kali visibilitas blogku nyaris tidak pernah tampil di halaman pertama mesin pencari.
Di titik inilah, semangatku untuk tetap setia menjadi blogger mulai diuji. Bukan sekali dua kali, tapi berkali-kali.
Musuh Terbesarku itu Bukan Algoritma, Tapi Diriku Sendiri
Lima tahun berjuang bukanlah hal yang bisa dianggap sederhana. Ada beberapa hal yang diam-diam sering memenuhi kepalaku dengan berbagai pertanyaan klise. Mengapa orang lain seolah bisa dengan mudah dan relatif singkat menghasilkan uang dari blog, sedangkan aku seolah masih jalan di tempat hingga hari ini?
Padahal, sebagian besar hal-hal teknis di atas sudah aku terapkan, bahkan aku juga sudah pernah mengeluarkan sejumlah anggaran untuk membiayai blog ini agar bisa segera menghasilkan uang.
Aku sudah pernah membeli paket domain premium, pakai template premium, bahkan ikut kelas blogger untuk memperdalam SEO dan sebagainya.
Banyak di antara kalian mungkin juga bertanya-tanya bagaimana bisa tetap belum berhasil setelah melewati semuanya selama lima tahun lamanya?
Aku pun mulai mempertanyakan pertanyaan serupa kepada diriku sendiri. Orang lain udah duluan sampai, kok aku masih muter-muter di sini aja ya?
Aku sempat berpikir penyebab kegagalanku adalah algoritma, persaingan, atau kurangnya modal. Namun, setelah mencatat dan mengamati, aku sampai pada kesimpulan yang terdengar begitu menyakitkan.
Ya, selain beberapa hal teknis yang mungkin menjadi faktor penyebab tertundanya keberhasilanku menghasilkan uang dari blog, ternyata musuh terbesarku adalah diriku sendiri.
Bukan karena aku tidak bisa menulis. Bukan karena aku tidak belajar SEO. Tetapi ada pola internal yang diam-diam menghambat langkahku. Di sinilah letak ironisnya. Di saat aku melihat blogger lain sudah melaju kencang menikmati hasil, aku justru merasa masih stuck di tempat yang sama.
Dan belakangan ini aku baru menyadari bahwa ternyata selama ini aku telah terjebak oleh "sisi gelapku" sendiri, sisi gelap yang telah mengambil alih kendali atas diriku sendiri.
Ya, ada sisi gelap dari diriku sendiri yang selama ini tanpa kusadari telah menghambat kemajuanku, menghambat potensi dalam diriku, dan menghambat terwujudnya semua impianku.
Tidak hanya blog saja yang terbengkalai dan jalan di tempat, beberapa proyek digital yang aku bangun akhirnya berhenti di tengah jalan, dan akun media sosial yang rencananya ingin aku jadikan "kolam uang" pun juga masih belum ada yang berhasil aku monetisasi. Entah itu Instagram, Facebook, Tiktok, YouTube, maupun beberapa akun freelancer pun berakhir dengan zonk.
Setiap kali aku mencoba membangun sebuah usaha atau mencoba peluang baru, aku selalu gagal atau berhenti di tengah jalan.
Lalu, sisi gelap apa yang aku maksudkan? Mari simak beberapa poin dan pembahasannya berikut ini:
1. Perfeksionisme yang menjadi tameng kebiasaan suka menunda-nunda
Aku adalah tipe orang yang cenderung perfeksionis dalam mengerjakan apa pun. Ketika bekerja atau berkarya, aku cenderung mengedepankan kualitas daripada kuantitas, berusaha mengerjakan semuanya dengan totalitas, harus sempurna dan gak mau setengah-setengah.
Begitu juga ketika berniat untuk fokus menghasilkan uang dari blog. Ketika aku mengelola sebuah blog, aku ingin tulisanku rapi, punya ritme yang mudah dipahami, risetnya lengkap, tampilan visualnya pas, dan sebagainya.
Namun, tanpa aku sadari, ternyata sifat perfeksionis itu justru menciptakan sebuah kebiasaan yang sangat menghambat kemajuanku, yakni kebiasaan suka menunda-nunda.
Kebiasaan ini kerap aku alami bukan karena aku malas_karena sebenarnya aku tipe orang yang suka bekerja keras, apalagi kalau sudah ketemu passion.
Aku rela duduk berjam-jam bahkan begadang dua hari dua malam di depan laptop untuk menulis, mengutak-atik template blog, mempelajari teknik SEO, dan sebagainya. Dan lucunya, selama lima tahun mengelola blog, bukan cuan yang aku hasilkan. Tetapi ratusan judul artikel hanya mengendap di folder draf saja.
Kok bisa?
Ya, ternyata sifat perfeksionisku itu tadi yang justru sering memutar balik arah dan tujuanku. Misalnya, setelah menulis, aku sering merasa tulisanku belum cukup bagus, merasa risetnya belum lengkap, kurang mendetail, dan sebagainya.
Dari situlah akhirnya aku kembali mengedit atau menyuntingnya lagi, lalu menunda menerbitkan artikel dengan berbagai macam alasan. "Nanti saja lah tunggu momen yang pas", "Nanti saja lah tunggu artikel turunannya selesai", "Kayaknya poin ini belum lengkap dan visual atau thumbnail-nya belum sesuai." Dan masih banyak lagi alasan lainnya.
Saking perfeksionisnya, aku jadi banyak pertimbangan dan berpikir, akhirnya hanya puluhan artikel yang berhasil aku publikasikan dalam kurun waktu 5 tahun terakhir ini dari 300-an lebih artikel yang terbengkalai di draf blog yang aku kelola.
Heheuhe... Ironis bukan…?
Sekali lagi, bukan karena aku malas atau tidak produktif, tetapi karena sifat perfeksionis yang selama ini ada dalam diriku. Padahal, itu sebenarnya hanyalah tameng dari rasa minder dan takut akan gagal.
2. Kebocoran Energi yang Tidak Bisa Kuhindari
Dalam perspektif psikologi modern, kebocoran energi (energy leak) sering kali disebut-sebut sebagai aktivitas, pikiran, atau interaksi yang secara perlahan menguras tenaga, mental, dan emosi seseorang tanpa menghasilkan sesuatu yang produktif.
Aku sering merasakan kelelahan, tapi tidak menghasilkan apa-apa.
Ya, ada fase di mana aku merasa sangat lelah, baik secara fisik maupun mental, padahal tidak sedang ngapa-ngapain, merasa lelah tapi tidak menghasilkan apa-apa. Kadang merasa bingung mau apa dan harus bagaimana.
Dari situlah aku mengenal konsep kebocoran energi, di mana pikiran, emosi, dan aktivitas menguras tenaga tanpa menghasilkan perkembangan dan pertumbuhan yang signifikan pada berbagai aspek kehidupanku.
Beberapa bentuk kebocoran energi yang sering aku alami, contohnya:
- Terjebak dalam lingkaran setan prokrastinasi (menunda-nunda) dan rasa bersalah. Kebiasaan menunda pekerjaan ini biasanya berakar dari sifat perfeksionis yang sudah aku sampaikan di atas. Dari sanalah lalu muncul kebiasaan suka menunda. Karena sering menunda, akhirnya aku jadi sering merasa bersalah dan menyalahkan diriku sendiri. Dari sini, akhirnya energiku habis untuk menyesali kesalahan yang kemudian melemahkan motivasi dan semangatku. Saat merasa tidak bersemangat, tentu memulai atau mencoba lagi menjadi sebuah tantangan yang berat.
- Sering membandingkan diri dengan orang lain: Ya, aku sering membandingkan diri dengan pencapaian blogger lain, yang akhirnya menyebabkan menurunnya rasa percaya diri dan sering merasa insecure. Padahal aku sadar bahwa masing-masing individu (blogger) punya pengalaman dan latar belakang yang berbeda. Rasa kurang percaya diri dan insecure itu sering membuatku skeptis dan ingin menyerah.
- Mudah overthinking. Kalian pasti tahu bagaimana dampaknya jika kita sering overthinking memikirkan sesuatu yang belum terjadi. Aku pun sering begitu, terlalu banyak berpikir tentang artikel yang aku tulis_bagaimana jika tidak ada yang baca, bagaimana jika isinya tidak relevan, ditambah lagi dengan pikiran yang selalu kembali ke trauma masa lalu, dan kekhawatiran akan masa depan —benar-benar menguras energi, hingga sering membuatku mudah lelah, gampang bosan, dilanda kecemasan, kegelisahan, akhirnya sering mengalami yang namanya writer's block.
- Open Tabs Mentally. Sebagai seorang ibu tunggal, aku rentan sekali menghadapi masalah tugas yang menumpuk, janji yang belum ditepati, proyek yang belum selesai. Isi kepalaku seperti komputer dengan banyak tab terbuka, multitasking yang membuat banyak tugas tidak selesai atau bahkan berhenti di tengah jalan, konflik batin yang tidak selesai, keputusan kecil yang harus kuambil sendirian setiap hari. Akhirnya, membuat energiku cepat habis, aku jadi lemot, kurang gercep, mudah lelah, kurang produktif karena sering mengalami kelelahan dan kebingungan.
- People-pleasing: Berusaha menjadi teman yang baik, pendengar yang baik, sahabat yang selalu ada, selalu ingin menyenangkan semua orang, sementara aku sendirian menanggung beban dan masalahku sendiri. Begitulah yang sering aku lakukan selama ini. Ini membuat energiku banyak terbuang di tempat lain sehingga membuatku cepat lelah dan sulit untuk maju dan berkembang.
Inti dari kelima poin yang sudah aku jelaskan di atas membuat fokus dan konsentrasiku bercabang ke mana-mana.
Alih-alih fokus dan konsisten menulis, energiku justru sering bocor dan habis untuk hal-hal yang sebenarnya tidak perlu_kecemasan yang datang tanpa diundang, kekhawatiran berlebihan tentang masa depan, kebiasaan membandingkan diriku dengan pencapaian orang lain, kebutuhan untuk dianggap berharga dan berguna, hingga rasa minder dan kurang percaya diri.
Singkatnya, energiku habis untuk sekadar bertahan (survival mode), bukan untuk bertumbuh (growth).
"Mode bertahan" inilah yang akhirnya juga membuat semangatku tiba-tiba menyusut, moodku naik turun, berantakan gak karuan, sehingga menjadikannya sebuah paradoks yang menyakitkan:
Aku butuh uang dari blog, tapi kondisi mental dan psikologisku saat ini justru membuatku sulit untuk fokus meraihnya.
3. Terlalu Banyak Minat, Akhirnya Tidak Fokus ke Mana-Mana
Riset menunjukkan bahwa minat bukan sekadar "hobi" yang menyenangkan, melainkan kompas internal yang secara signifikan menentukan daya tahan dan performa seseorang. Menjalani karir sesuai minat bukan hanya soal kebahagiaan, tapi soal efisiensi energi.
Ketika minat tidak dikelola dengan baik, yang terjadi justru kita tidak bisa menentukan arah dan tujuan hidup dengan jelas.
Itulah yang aku alami selama lima tahun berusaha bangkit dari keterpurukan ekonomi dan finansial. Aku bisa menulis, aku bisa mengedit atau membuat video yang estetis, aku menguasai AI, aku bisa membuat aneka macam desain, aku bisa memasak dan membuat aneka macam kue dan berbagai jenis olahan makanan.
Namun, dari beberapa minat dan bakat yang aku miliki, belum ada satu pun yang bisa membuatku berhasil memperbaiki kondisi ekonomiku. Aneh, tetapi inilah realita yang aku alami.
Selama 8 tahun terakhir ini, sebagai seorang ibu sekaligus tulang punggung keluarga, aku sering merasa semuanya begitu menarik dan layak dicoba. Semuanya punya prospek untuk menghasilkan cuan di mataku. Dan lucunya, semuanya ingin aku kejar agar bisa menghasilkan cuan.
Ketertarikanku pada banyak hal justru membuatku kewalahan dan kesulitan dalam menentukan fokus, mana yang harus aku tekuni, dan ke mana aku harus menentukan arah dan tujuanku.
Di fase ini, aku justru sering mengalami kebingungan dan dilema yang berkepanjangan. Apakah aku harus fokus pada pekerjaanku di luar blogging? Apakah aku harus bertahan di sini sementara beberapa proyek desain yang sedang aku kerjakan juga berpeluang menghasilkan cuan? Apakah aku harus melupakan semua proyek digital itu dan mempertimbangkan untuk membangun bisnis konvensional?
Hari ini mungkin aku sedang ingin fokus di blogger untuk menulis. Dalam hitungan menit, aku bisa pergi ke Canva untuk membuat desain baru yang muncul di kepalaku, atau pergi ke capcut untuk menyelesaikan editan video reelku yang belum selesai. Besok mungkin aku membuat beberapa ide jualan yang cepat menghasilkan uang.
Satu ide belum kelar, sudah muncul ide dan minat baru.
Begitulah pola yang aku alami selama kurang lebih 5 tahun terakhir ini. Di kepalaku semua terasa penting. Semua terasa menarik. Hingga akhirnya, tidak satu pun yang benar-benar bisa selesai dan membawaku ke arah pertumbuhan dan pemberdayaan diri (self-growth).
Langkah Kecil agar Tidak Mudah Menyerah
Berjuang selama lima tahun tanpa hasil seperti yang kita harapkan tentu sangat melelahkan. Ada keraguan, ada kecemasan, ada luka, ada kekecewaan yang menimbulkan trauma ketika artikelku tidak ada yang membaca, tidak ada satu pun klik yang ditunjukkan oleh alat analitik. Huffttt… rasanya ingin menyerah saja.
Namun, ketika ingin menyerah, tiba-tiba ada suara "Kalau gak nulis, aku musti ngapain?"
Akhirnya, aku mulai belajar melakukan beberapa langkah kecil yang perlahan membuatku mampu bertahan. Beberapa langkah kecil yang mulai membantuku bertahan:
- Aku belajar menurunkan standar publikasi: artikel terbit lebih penting daripada artikel sempurna. Lebih mengutamakan kuantitas baru kualitas, namun tidak terkesan asal-asalan.
- Menetapkan target kecil dan realistis, misalnya satu artikel per minggu atau dua artikel per bulan.
- Memilih satu fokus utama dalam periode tertentu, bukan semua niche sekaligus.
- Menyelesaikan satu artikel sampai terbit sebelum menambah atau berpindah topik: satu tab ditutup dulu sebelum membuka tab yang lain.
Dukungan Emosional: Menghadapi Minder dan Perfeksionisme
Aku belajar berdamai dengan keadaan bahwa aku memang berjalan dengan kondisi yang berbeda. Latar belakang, energi, dan tanggung jawabku tidak sama dengan orang lain.
Aku berhenti menjadikan pencapaian orang lain sebagai alat untuk menghakimi diri sendiri. Aku mulai melihat blog bukan hanya sebagai mesin uang, tapi sebagai ruang belajar dan penyembuhan.
Rasa minder mungkin tidak hilang secara instan, tapi aku tidak lagi dikendalikan oleh perasaan tersebut.
Manajemen Waktu ala Ibu Single Parent
Waktu bagiku bukan soal jam kosong, tapi energi yang tersisa. Aku mulai membagi waktu dengan lebih realistis: waktu menulis saat pikiran relatif tenang, bukan memaksakan diri saat lelah.
Aku belajar menerima bahwa hari-hari tertentu memang hanya cukup untuk bertahan, bukan berprestasi. Dan itu tidak apa-apa, tidak perlu merasa bersalah jika hari ini tidak bisa menulis.
Komunitas: Bertumbuh Bersama, Bukan Sendiri
Salah satu hal yang sering diabaikan adalah komunitas. Berada di lingkaran sesama penulis atau ibu single parent yang berjuang di jalur serupa memberi rasa tidak sendirian. Bukan untuk pamer hasil, tapi berbagi proses.
Dukungan moral sering kali lebih penting daripada tips teknis.
Meskipun aku cenderung introvert, aku belajar untuk bergabung dengan beberapa komunitas blogger, terutama blogger perempuan.
Kalau kamu kebetulan juga seorang blogger, ibu single parent yang sedang berada di fase lelah, semoga tulisan ini tidak membuatmu menyerah, tapi membuatmu merasa ditemani.
Harapan untuk Ibu Single Parent yang Ingin Mulai Blogging
Jika kamu kebetulan adalah ibu single parent yang baru ingin mulai ngeblog, masuklah dengan harapan dan ekspektasi yang realistis. Karena ngeblog bukanlah jalan yang mudah untuk cepat kaya. Ini jalan panjang yang menuntut kesabaran, belajar, dan keberanian menghadapi diri sendiri.
Namun, buat kalian yang baru memilih jalan ini, jangan berkecil hati! Jika kalian tekun dan konsisten serta mampu beradaptasi dengan perubahan, blogging tetap bisa menjadi jalur karier yang menjanjikan, baik secara kreatif maupun finansial.
Selain itu, ngeblog juga membuka banyak peluang yang menarik dan bermanfaat.
Jadi, jangan buru-buru ngeblog dengan motivasi "demi mengejar uang", tetapi akan lebih bijaksana dan realistis jika kalian memulai ngeblog dengan ekspektasi yang tidak berlebihan, misalnya untuk belajar dan menambah pengalaman.
Kesimpulan: Ngeblog itu ternyata susah.
Setelah berjuang selama kurang lebih lima tahun lamanya, yang aku rasakan adalah bahwa menghasilkan uang dari blog itu tidak mudah.
Terlebih untuk diriku yang telah menghabiskan sebagian besar waktuku untuk menulis di blog. Apalagi ketika baru pertama kali terjun ke dunia blogging, aku hanyalah seorang ibu tunggal biasa yang belum punya banyak pengalaman. Tantangan ini terasa semakin berat.
Hingga akhirnya bukan kendala teknis semata yang jadi persoalan, tetapi justru sisi gelap dalam diriku sendiri juga menjadi sebuah hambatan yang hingga kini masih berusaha untuk aku taklukkan.
Dan aku juga masih terus belajar menerima dan mengakui, agar akhirnya aku bisa melepaskan sisi gelap dalam diriku ini. Aku masih belajar untuk berdamai dengan diriku sendiri, dan ini adalah langkah pertama untuk berubah.
Dari hari ke hari, aku berusaha untuk menerima diriku sendiri dan berani melangkah keluar dari bayang-bayang ketakutan dan keraguan. Dengan harapan, suatu hari nanti aku bisa dan layak mendapatkan kesuksesan yang selama ini aku impikan.
Aku juga berharap pengalamanku ini bisa menjadi bagian dari kisah-kisah para blogger. Di mana tidak semua blogger punya pengalaman indah dan manis untuk mewujudkan impian menjadi blogger sukses.
Intinya, jika tujuanmu ngeblog adalah untuk menghasilkan uang, tentu memerlukan fokus, ketekunan, dan konsistensi. Tidak hanya pengetahuan tentang SEO dan hal-hal teknis saja yang perlu diperhatikan, tetapi faktor internal seperti kesehatan mental dan psikologis dalam diri setiap individu (blogger) juga perlu mendapat perhatian.
Harapanku, artikel ini dapat memberi inspirasi untuk kalian yang mungkin sedang merasa bimbang atau kurang yakin dengan jalan yang kalian pilih. Ingatlah bahwa sering kali perjalanan atau proses itu sendiri yang memberikan makna, bukan hanya hasil akhirnya.
Pada artikel ini, aku juga ingin berbagi insight dan pengetahuan tentang bagaimana faktor psikologi dan kesehatan mental menjadi aspek penting dalam perjalanan ini.
Jadi, meskipun artikel ini tak menceritakan tentang kesuksesan finansial, ada banyak nilai dan pelajaran yang kudapatkan dari blog ini yang tak bisa diukur dengan "uang".
Ya, ngeblog itu ternyata tidak mudah. Tapi dari kesulitan itu aku belajar mengenali diriku sendiri. Dan blog Diari Gunarti ini telah menjadi cermin tentang luka, ketakutan, harapan, dan daya tahan.
Meskipun aku belum bisa memonetisasi blog ini, setidaknya aku mendapatkan pengalaman yang sangat berharga dalam proses pemberdayaan dan penyembuhan diri. Selain itu, aku dapat mengasah keterampilanku menulis dan mengelola blog dengan lebih baik.
Kalaupun belum bisa sukses menghasilkan uang, setidaknya aku mendapatkan pengalaman dan pelajaran.
Aku masih di sini. Masih menulis. Masih belajar. Dan mungkin itu sendiri sudah sebuah kemenangan kecil.
Mari tetap berusaha dan menikmati prosesnya!


Posting Komentar