Hari Ini Aku Merayakan Diriku Sendiri: Monolog Hari Lahir ke-48

Daftar Isi [Tampil]

     

    Seorang perempuan sederhana duduk di kamarnya yang sederhana menikmati kopi pagi sambil menulis di buku catatan, diterpa cahaya matahari keemasan, dengan ekspresi senyum tenang dan penuh syukur

    Hari ini aku genap berusia 48 tahun.

    Tidak ada pesta. Tidak ada kue ulang tahun. Tidak ada deretan pesan ucapan yang menghiasi layar ponselku. Tidak ada doa, harapan, atau kata-kata selamat yang datang dari orang lain.

    Hanya ucapan dari si kecil yang malu-malu, yang diucapkan dengan suara yang sangat lirih.

    Dan anehnya, itu saja bagiku sudah cukup. Aku tetap merasa it's ok, never mind. Aku tetap melakukan rutinitasku pagi ini seperti biasa: melakukan meditasi ringan, sun gazing, grounding sambil menikmati kopi di pagi hari dengan rasa syukur dan cukup untuk hari ini setelah melakukan aktivitas sebagai seorang ibu pada umumnya. 

    Mungkin beberapa tahun lalu aku akan merasa sedih dan nelangsa. Mungkin aku akan bertanya-tanya mengapa di hari istimewa ini aku seolah dilupakan. Mengapa hari yang begitu berarti bagiku tampak seperti hari biasa bagi dunia?

    Namun hari ini terasa berbeda.

    Tepat di hari kelahiranku yang ke-48, tanpa sengaja sebuah lagu lewat di beranda media sosial yang sedang kubuka_lagu I Celebrate Me_yang dipopulerkan oleh Ingarose, yang ternyata bukanlah sosok artis manusia sungguhan; ia hanyalah persona musik R&B dan soul yang sepenuhnya dihasilkan oleh AI.

    Lagu yang beberapa waktu terakhir ini aku ketahui viral di beberapa platform media sosial, terutama di platform TikTok, tetapi entah mengapa, lagu itu terasa seperti sedang menceritakan hidupku sendiri. Seolah ada seseorang yang memahami perjalanan panjang yang selama ini kulalui dalam sunyi.

    Perjalanan menjadi seorang ibu yang sedang berusaha bangkit setelah jatuh.
    Perjalanan seorang ibu yang pernah kehilangan banyak hal.
    Perjalanan bertahan ketika hidup tidak selalu sesuai harapan, serta
    Perjalanan bangun setiap pagi meski hati lelah dan pikiran penuh kekhawatiran.

    Tidak semua perjuangan itu benar-benar terlihat oleh orang lain, hingga akhirnya mampu menapaki usia ke-48 tahun.

    Banyak luka yang sembuh tanpa saksi. Banyak air mata yang jatuh tanpa diketahui siapa pun. Banyak keberanian yang muncul justru ketika tidak ada seorang pun yang datang untuk menemani dan menyelamatkan.

    Hari ini aku belajar sesuatu

    Dari lagu I Celebrate Me tadi, yang aku dengarkan bertepatan dengan hari istimewaku ini, aku belajar tentang:

    Tidak semua perayaan harus datang dari luar. 

    Jika tidak ada yang merayakanmu, kamu masih bisa merayakan dirimu sendiri.
    Jika tidak ada yang memberi tepuk tangan, kamu masih bisa bertepuk tangan untuk dirimu sendiri.
    Jika tidak ada yang memberi pujian, kamu masih bisa menghargai dirimu sendiri.

    Bukan karena sombong. Bukan karena merasa paling gagah dan hebat. Terlebih ketika dunia tidak benar-benar melihat pencapaian yang terkesan heroik dan luar biasa dalam hidupku. Yang secara kasatmata, hidupku masih nampak biasa saja, jauh dari kata hebat di mata dunia.

    Dari situlah aku belajar bahwa pada kenyataannya hanya aku yang benar-benar tahu seberapa jauh perjalanan yang telah kutempuh. Hanya aku yang tahu berapa kali aku sudah jatuh, berjuang, kecewa, kehilangan arah, lalu perlahan bisa bertahan, lalu bisa bangkit kembali, meskipun pelan. Dan hanya diriku sendiri yang merasa bahwa aku layak untuk dirayakan_sekalipun oleh diriku sendiri.

    Sunyi bukan berarti tidak ada yang peduli

    Aku juga belajar bahwa mungkin hari ulang tahunku yang sunyi ini bukan karena tidak ada yang peduli. Aku hanya sedang hidup di situasi di mana banyak orang kelelahan oleh perjuangan masing-masing. Situasi di mana dunia sedang sibuk menyembuhkan lukanya sendiri.

    Itulah sebabnya aku tidak ingin mengukur cinta dan kepedulian dari jumlah ucapan, hadiah, atau perayaan yang kuterima hari ini. Sebab tidak semua kepedulian datang dengan bouquet bunga, kue, kata-kata manis atau hal-hal romantis lainnya.

    Ada cinta yang hadir dalam doa diam-diam.
    Ada perhatian yang tak sempat terucapkan.
    Dan ada rasa syukur yang tumbuh dari kesadaran sederhana bahwa aku masih di sini, masih bernapas, masih mampu berharap.

    Mungkin itu sudah lebih dari cukup.

    Dan hari ini, di usia 48 tahun, aku memilih untuk tetap merayakan kecukupan itu, meski nampak sangat tidak estetik dan romantis di mata dunia.

    Hari ini aku tidak merayakan kesempurnaan.

    Ya, hari ini aku tidak sedang merayakan kesempurnaan; aku sedang merayakan ketahanan.
    Aku merayakan diriku yang masih ada di sini.
    Diriku yang belum menyerah.
    Diriku yang tetap berjalan meski langkahku sering tertatih hingga kadang terasa sangat letih.

    Dan untuk diriku yang berusia 48 tahun hari ini, aku ingin mengucapkan:

    "Terima kasih."

    Terima kasih karena sudah bertahan sejauh ini.
    Terima kasih karena tidak menyerah, ketika hidup terasa berat.
    Terima kasih karena masih memiliki harapan, bahkan ketika keadaan tidak selalu berpihak.

    Jangan menunggu dunia mengakui perjuanganmu. Jika hari ini kamu masih bertahan, itu sudah alasan yang cukup untuk merayakan dirimu sendiri.

    Selamat ulang tahun untukku. Juga buat kalian yang kebetulan hari ini sedang merayakan hari kelahiran di ruang yang paling sunyi.

    Hari ini, aku memilih merayakan diriku sendiri. Bagaimana dengan kalian?💪✨

    Posting Komentar

    Jangan lupa tinggalkan komentar ya, aku akan sangat senang berdiskusi dengan kalian